Harga Bitcoin mengalami penurunan tajam dalam perdagangan kemarin. Aset kripto yang dikenal sebagai emas digital itu turun di bawah US$63.000, menghilangkan keuntungan yang sebelumnya terakumulasi selama masa pemerintahan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump.
Token tersebut merosot hingga 14% pada hari Kamis menjadi $62.267, yaitu level terendah sejak Oktober 2024. Sementara itu, dalam perdagangan pagi ini, Jumat (6/2/2026), pada pukul 07.52 WIB, aset kripto ini diperdagangkan pada kisaran US$63.086,55 per keping.
Penurunan signifikan ini telah menghapus setengah dari nilai Bitcoin sejak mencapai rekor tertinggi empat bulan lalu dan menyebar ke token lainnya. Sebelumnya, kenaikan harga Bitcoin dan aset kripto didorong oleh kembalinya presiden AS yang pro-kripto ke Gedung Putih. Realitas ini memicu masuknya spekulasi besar-besaran ke aset digital dan instrumen keuangan berbasis kripto di Wall Street.
Namun, sejak awal tahun ini, pasar mulai goyah karena meningkatnya ketegangan geopolitik global yang menekan selera risiko investor. Kondisi ini memicu penurunan Bitcoin sejak pertengahan Januari dan mendorong siklus aksi jual berantai, ketika dana-dana investasi melikuidasi aset untuk memenuhi penarikan dan menutup posisi margin yang dilakukan.
“Ketakutan dan ketidakpastian di seluruh pasar sangat jelas terlihat. Tanpa pembeli yang memiliki keyakinan dan bersedia untuk menekan harga jual, setiap gelombang penarikan dan likuidasi ETF akan berantai,” ujar Chris Newhouse, kepala pengembangan bisnis di Ergonia.
Ia menambahkan, kondisi tersebut melipatgandakan setiap penurunan dan memperkuat posisi defensif yakni keluar dari pasar. Tekanan di pasar kripto kali ini mengingatkan pada kejatuhan tahun 2022, ketika harga aset digital anjlok tajam menyusul pengetatan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed) setelah periode likuiditas longgar selama pandemi.
Dampaknya juga dirasakan oleh perusahaan perantara kripto, seperti Coinbase Global Inc., yang sahamnya telah merosot lebih dari 30% sepanjang tahun ini. Sementara itu, Gemini Space Station Inc. menyatakan berencana memangkas hingga 25% tenaga kerjanya serta menghentikan operasinya di Inggris, Uni Eropa, dan Australia.
Berbeda dengan siklus sebelumnya, Bitcoin kini juga menghadapi persaingan dari bentuk spekulasi lain, termasuk perjudian olahraga yang telah dilegalkan serta pasar prediksi yang mencakup isu politik hingga hiburan. Di saat yang sama, investor ritel masih agresif mengejar opsi zero-day di pasar saham serta instrumen kripto berimbal hasil tinggi di bursa terdesentralisasi.
Penurunan terbaru ini kembali memunculkan keraguan atas kegunaan aset digital di dunia nyata. Bitcoin yang sempat dipromosikan sebagai lindung nilai inflasi atau alternatif emas dan dolar AS, masih diperdagangkan layaknya aset berisiko tinggi dan belum berfungsi sebagai aset lindung nilai saat tekanan pasar meningkat. Bahkan, meningkatnya kepemilikan institusional justru membuat Bitcoin lebih rentan terhadap aksi de-risking secara luas.
“Momentum telah mengambil alih saat ini dan pasar bearish kripto cenderung berakhir lebih pada sikap apatis daripada keputusasaan,” kata Ryan Rasmussen, direktur dan kepala penelitian di Bitwise Asset Management.
“Saat ini kita berada dalam fase keputusasaan dari penarikan dana,” katanya.
Tekanan juga terlihat pada arus dana ETF Bitcoin spot di Amerika Serikat. Sepanjang 2025, produk-produk tersebut sempat menopang harga Bitcoin berkat masuknya dana puluhan miliar dolar. Namun, arus tersebut kini berbalik. Bloomberg mencatat sekitar US$2 miliar dana keluar dari ETF Bitcoin hanya dalam satu bulan terakhir, dan lebih dari US$5 miliar ditarik dalam 3 bulan terakhir.
Kejatuhan Bitcoin berdampak luas ke seluruh pasar aset digital. Token spekulatif berkapitalisasi kecil dan kurang likuid mengalami tekanan lebih dalam. Indeks MarketVector Digital Assets 100 Small-Cap tercatat telah anjlok sekitar 70% dalam setahun terakhir.
Di pasar derivatif, pedagang semakin defensif. Permintaan perlindungan terhadap penurunan harga meningkat di kisaran $70.000. Sementara kontrak berjangka jangka menengah menunjukkan pandangan yang lebih bearish, dengan konsentrasi minat terbuka di sekitar level $60.000 dan $20.000, berdasarkan data Deribit.
Ilan Solot, ahli strategi pasar global senior di Marex, menyebut aksi jual dipicu kombinasi sejumlah faktor, mulai dari pelemahan saham teknologi, kinerja emas yang lebih kuat, hingga sentimen penghindaran risiko secara global.
“Prospeknya mungkin masih bearish untuk saat ini, tetapi yang terburuk mungkin sudah berlalu, namun demikian, pergerakan seperti ini secara historis selalu menjadi peluang pembelian bagi investor jangka panjang dan banyak yang akan melihatnya seperti itu,” katanya.











