Krisis Pangan di Aceh Tengah Mengancam Kehidupan Ratusan Bayi dan Balita
Kondisi krisis pangan yang melanda Aceh Tengah kini semakin memprihatinkan, terutama bagi kelompok rentan seperti bayi dan balita. Data terbaru dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Aceh Tengah per 30 November 2025 menunjukkan bahwa lebih dari seribu bayi dan balita berada dalam kondisi kritis akibat tidak adanya pasokan pangan. Hal ini membuat banyak keluarga di pengungsian maupun desa-desa yang masih bisa dijangkau mengalami kesulitan ekstrem dalam memenuhi kebutuhan makanan sehari-hari.
Banyak keluarga mengaku sudah tidak memiliki persediaan beras atau makanan pokok lainnya. Para ibu mulai memberikan makanan seadanya kepada anak-anak mereka, dan dalam beberapa kasus hanya air putih karena tidak memiliki pilihan lain. Bahkan, seorang warga Kampung Bebesen, Aceh Tengah, Khalis mengatakan bahwa kedua anaknya yang masih balita hanya makan pisang rebus sepanjang hari, dan kini persediaan itu pun telah habis.
“Sejak kemarin kami tidak punya apa-apa lagi. Saya sudah keliling semua grosir sampai ke desa-desa mulai dari kecil hingga besar sudah habis,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa seluruh toko di Takengon sudah tutup karena tidak ada pasokan masuk dan sebagian besar warga mengalami kondisi yang sama.
Kelompok Rentan Terancam Kehilangan Nyawa
Selain bayi dan balita, kelompok rentan lainnya seperti ibu hamil dan ibu menyusui juga menghadapi situasi yang sangat berat. Mereka membutuhkan asupan gizi yang memadai, namun kondisi lapangan tidak memungkinkan. Kelompok ini menjadi yang paling terancam karena kebutuhan nutrisi mereka jauh lebih tinggi untuk mempertahankan kesehatan diri dan bayi mereka.
Sementara itu, laporan tim kesehatan bergerak menunjukkan jumlah pengungsi yang mengalami gangguan kesehatan terus bertambah, mulai dari demam, flu, diare, hingga hipertensi. Situasi diperkirakan akan memburuk apabila pasokan pangan dan air bersih tidak segera masuk.
Pemda Minta Bantuan Darurat ke BNPB
Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah mengakui bahwa ancaman kelaparan kini berada di depan mata. Pemerintah daerah telah meminta bantuan darurat kepada Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) untuk membuka distribusi melalui udara. Namun cuaca buruk sejak pagi membuat helikopter belum dapat melakukan pendaratan maupun pengiriman logistik.
Warga berharap pemerintah pusat segera turun tangan karena kondisi di lapangan tidak lagi memungkinkan ditangani dengan kemampuan daerah sendiri. “Semua orang panik. Pasar kosong, toko tutup, dan kami tidak bisa keluar mencari makanan. Tolong sampaikan ke pemerintah, kami butuh bantuan sekarang, bukan besok,” kata Khalis.
Upaya Darurat untuk Mengatasi Kondisi Ini
Pemerintah terus melakukan upaya darurat untuk mengatasi kondisi ini sambil menunggu akses jalur darat kembali dapat dilalui. Namun, kondisi saat ini sangat memprihatinkan, dan kebutuhan mendesak untuk mendapatkan pasokan pangan dan air bersih harus segera dipenuhi.











