BeritaSelebriti

Profil Kak Seto Dibahas Kembali, Sikap Masa Lalunya Jadi Sorotan

×

Profil Kak Seto Dibahas Kembali, Sikap Masa Lalunya Jadi Sorotan

Sebarkan artikel ini

Peristiwa Viral dan Kritik terhadap Kak Seto

Cerita Aurelie Moeremans yang menjadi korban child grooming oleh seorang aktor lebih tua kembali mencuri perhatian publik. Cerita ini diungkapkan Aurelie melalui bukunya, Broken Strings. Buku tersebut menceritakan pengalamannya sebagai korban kekerasan seksual saat berusia 15 tahun, yang dilakukan oleh seseorang dengan usia hampir dua kali lipat dari usianya.

Aurelie dikenal pernah menjadi sorotan pada 2010 lalu setelah mengadukan hubungan yang tidak sehat dengan seorang aktor bernama Robby Tremonti. Saat itu, ia masih berusia 17 tahun, sedangkan Robby berusia 30 tahun. Menurut keluarga Aurelie, Kak Seto, yang saat itu menjabat sebagai Ketua Komnas PA, tidak merespons secara serius aduan mereka. Bahkan, ayah Aurelie, Jean-Marc Moeremans, menyatakan bahwa keluarganya beralih mengadu ke KPAI karena merasa Kak Seto tidak mengambil tindakan apa pun dan terkesan memihak pada Robby.

Pemberitaan mengenai respons Kak Seto dalam kasus ini viral di media sosial, terutama di platform X (dulu Twitter). Salah satu akun yang membagikan pemberitaan lama tentang kasus Aurelie-Robby adalah @mahakersa. Akun tersebut menulis: “Fakta bahwa ibunya Aurelie sudah minta tolong Kak Seto empat kali, tapi tetap gak digubris.”

Profil Kak Seto

Seto Mulyadi, atau dikenal sebagai Kak Seto, lahir di Klaten, Jawa Tengah, pada 28 Agustus 1951. Ia dikenal sebagai psikolog anak yang saat ini menjabat sebagai Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia (LPAI). Kak Seto pernah mencoba masuk ke Universitas Airlangga (Unair) dan Universitas Indonesia (UI), namun gagal. Kegagalan ini membuatnya merantau ke Jakarta untuk mengikuti tes Fakultas Kedokteran UI. Lagi-lagi, ia gagal. Atas saran Pak Kasur, Kak Seto akhirnya masuk Fakultas Psikologi UI dan lulus pada 1981.

Selama kariernya, Kak Seto telah meraih berbagai penghargaan, termasuk Bintang Jasa Nararya dari Presiden RI (2025), Men’s Obsession Award (2006), The Golden Balloon Award, New York; kategori Social Activity dari World Children’s Day Foundation & UNICEF (1989), serta beberapa penghargaan internasional lainnya.

Kak Seto juga dikenal sebagai pembuat karakter Si Komo dan pendiri Yayasan Mutiara Indonesia serta sekolah alternatif bernama Homeschooling Kak Seto.

Kritik Publik atas Sikap Kak Seto

Kini, Kak Seto menjadi sorotan usai pemberitaan mengenai sikapnya di masa lalu dalam menanggapi kasus Aurelie Moeremans dan Robby Tremonti viral. Banyak warganet menilai bahwa Kak Seto hanya memihak pada anak-anak orang kaya dalam menyelesaikan masalah. Beberapa komentar netizen antara lain:

  • “Dari dulu emang red flag, kok pada baru tahu sekarang?”
  • “Kak Seto sahabat anak, anaknya orang kaya wkwkwk.”
  • “Duit dulu, Bos. Sorry citra Kak Seto ya runtuh dengan sendirinya.”
  • “Tahun 2005-an adik angkat di bawah umur ditahan di Polsek Jatiasih, keluarga minta pendampingan LPAI yang waktu itu diketuai beliau karena si adik ini ditelantarkan keluarga kandungnya. Ga ada respons tuh! Sejak itu ga percaya sama image beliau lagi.”

Klarifikasi Kak Seto

Menanggapi kritik tersebut, Kak Seto memberikan klarifikasi melalui Instagramnya, @kaksetosahabatanak, pada Rabu (14/1/2026). Ia mengaku mengikuti diskusi publik yang berkembang mengenai kisah Aurelie yang diceritakan lewat Broken Strings. Kak Seto juga menyatakan bahwa kejadian di masa lalu akan dijadikan sebagai refleksi untuk memperkuat perlindungan anak.

“Kami mengikuti dengan sungguh-sungguh diskusi publik yang berkembang, termasuk berbagai kutipan dan pernyataan di masa lalu yang kembali diangkat,” katanya. Ia menjelaskan bahwa setiap pendampingan dan pernyataan disampaikan berdasarkan pengetahuan, kewenangan, serta kerangka pemahaman yang berlaku saat itu.

Namun, ia menyadari bahwa standar perlindungan anak hari ini menuntut kepekaan, kehati-hatian, dan perspektif yang jauh lebih kuat terhadap potensi manipulasi, tekanan emosional, dan ketimpangan kuasa dalam relasi yang melibatkan anak dan remaja.

“Oleh karena itu, kami menjadikan refleksi atas praktik di masa lalu sebagai bagian dari proses pembelajaran berkelanjutan untuk memperkuat perlindungan anak ke depan,” ujarnya.

Lebih lanjut, Kak Seto menegaskan bahwa ia mengecam segala bentuk manipulasi hingga child grooming. Ia juga menghormati para korban yang berani berbicara atas tragedi yang menimpa mereka. Atas hal itu, Kak Seto mengajak semua pihak untuk menyikapi isu child grooming dengan penuh empati dan kebijaksanaan.

“Kami mengecam segala bentuk manipulasi, relasi tidak setara, dan praktik child grooming.”
“Anak tidak pernah berada dalam posisi setara untuk dimintai pertanggungjawaban atas relasi yang dibangun melalui tekanan, bujuk rayu, atau ketimpangan kuasa.”
“Kami menghormati keberanian siapapun yang memilih bersuara atas pengalaman masa lalunya, dan memandang suara tersebut sebagai pengingat penting agar sistem perlindungan anak terus diperbaiki, diperkuat, dan semakin berpihak pada kepentingan terbaik anak.”
“Kami mengajak seluruh pihak untuk menyikapi isu ini dengan empati dan kebijaksanaan, dan fokus pada tujuan bersama: menciptakan ruang yang aman bagi anak-anak Indonesia hari ini dan di masa depan,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *