Gaya HidupKeluargaKesehatan

Kenali RSV, Cegah Infeksi pada Bayi Prematur

9
×

Kenali RSV, Cegah Infeksi pada Bayi Prematur

Sebarkan artikel ini

Pentingnya Kesadaran Orang Tua dalam Menghadapi Virus RSV pada Bayi Prematur

Dalam memperingati Hari Anak, Hari Prematur, dan Hari Pneumonia Sedunia, penting bagi orang tua untuk bisa mengenali dan memahami bahaya yang ditimbulkan oleh virus RSV. Respiratory Syncytial Virus (RSV) adalah virus yang dapat menyerang siapa saja, termasuk bayi dalam kandungan yang berisiko lahir prematur.

Bayi prematur memiliki sistem kekebalan tubuh yang belum sempurna dan paru-paru yang masih berkembang. Oleh karena itu, pencegahan dini sangat penting untuk mendukung tumbuh kembang dan kualitas hidup jangka panjang mereka. Setiap tahun, lebih dari 675.000 bayi lahir prematur di Indonesia, menjadikan negara ini sebagai peringkat kelima dunia dengan jumlah kelahiran prematur tertinggi.

Bayi prematur adalah bayi yang lahir sebelum usia kehamilan 37 minggu. Mereka tidak memiliki sistem kekebalan tubuh yang lengkap dan kurang menerima transfer antibodi pelindung dari ibunya selama masa kehamilan. Hal ini membuat mereka rentan terhadap berbagai infeksi, termasuk RSV.

Risiko Infeksi RSV pada Bayi Prematur

Menurut Prof. Rinawati Rohsiswatmo, Dokter Spesialis Anak Subspesialis Neonatologi, bayi prematur memiliki risiko dua hingga tiga kali lebih besar untuk dirawat di rumah sakit akibat infeksi RSV pada tahun pertama kehidupan mereka. Infeksi ini sering berkembang cepat dan memerlukan perawatan yang intensif.

Gejala awal RSV sering disalahartikan sebagai flu biasa, seperti pilek, bersin, dan batuk ringan. Namun, infeksi ini dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan berat, meninggalkan dampak jangka panjang seperti peningkatan risiko asma, wheezing kronis, serta penurunan fungsi paru.

Perbedaan RSV dengan Gejala Flu Lainnya

Untuk membedakan RSV dengan penyakit pernapasan lainnya, penting untuk mengenali perbedaan gejalanya. Berdasarkan studi, diperkirakan 1 dari 10 bayi di Indonesia meninggal karena infeksi saluran napas bawah akibat RSV.

Beberapa perbedaan antara RSV dengan penyakit pernapasan lainnya meliputi:

  • Flu (Influenza): Datang secara tiba-tiba dengan demam tinggi, nyeri otot, kelelahan, dan sakit tenggorokan, namun jarang menyebabkan sesak napas.
  • Covid-19: Memiliki gejala mirip flu tetapi sering disertai sesak napas, kelelahan berat, dan terkadang kehilangan indera penciuman atau perasa.
  • RSV: Lebih sering menyerang bayi dan anak kecil dengan gejala batuk, demam ringan, wheezing (mengi), dan kesulitan bernapas.

Pada tahap awal, infeksi RSV menyerupai flu biasa, tetapi pada bayi berisiko tinggi, termasuk bayi prematur, gejala dapat berkembang menjadi gangguan pernapasan serius.

Pencegahan Dini dan Pengobatan RSV

Berdasarkan Konsensus RSV Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) tahun 2024, identifikasi dini RSV dan pemberian antibodi monoklonal seperti Palivizumab sebagai profilaksis infeksi RSV berat direkomendasikan bagi bayi dengan risiko tinggi. Kelompok ini termasuk bayi prematur, bayi dengan kondisi bronchopulmonary dysplasia (BPD), serta bayi dengan penyakit jantung bawaan (congenital heart disease (CHD)).

Palivizumab telah terbukti menurunkan angka rawat inap akibat RSV hingga lebih dari 50% pada bayi berisiko tinggi.

Peran Orang Tua dalam Mencegah RSV

Orang tua memiliki peran utama dalam menjaga kesehatan bayi prematur. Mencegah satu kali infeksi berarti memberi kesempatan lagi bagi bayi untuk bernapas lebih lega, tertawa lebih lama, dan tumbuh dengan harapan yang lebih besar.

Langkah-langkah sederhana yang dapat dilakukan orang tua antara lain:

  • Rajin mencuci tangan dengan sabun.
  • Menjaga kebersihan lingkungan.
  • Menghindari kontak dengan orang yang sedang sakit.
  • Memastikan sirkulasi udara di rumah tetap baik.
  • Membatasi aktivitas di tempat ramai.

Selain itu, dukungan edukasi dan informasi dari pihak medis juga penting dalam mencegah risiko infeksi RSV.

Kolaborasi Lintas Sektor dalam Edukasi Publik

Kesadaran publik menjadi faktor penting dalam menekan beban penyakit RSV di Indonesia, terutama pada bayi prematur. Kolaborasi lintas sektor seperti pemerintah, tenaga medis, organisasi profesi, dan industri kesehatan berperan besar dalam memperluas edukasi publik terkait infeksi ini.

AstraZeneca Indonesia berkomitmen untuk mendukung edukasi berkelanjutan guna meningkatkan pemahaman dan perlindungan bagi bayi berisiko tinggi. Sebagai bagian dari komitmen jangka panjang, perusahaan terus mengembangkan ilmu pengetahuan dan memperluas pemahaman tentang RSV untuk membantu mengurangi beban penyakit pernapasan pada anak.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *