JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Industri Mineral (BIM) mengincar potensi pasar dari hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) sebesar US$7,42 miliar atau setara Rp124,76 triliun (asumsi kurs Rp16.815 per US$) pada 2030. Berdasarkan kajian BIM, nilai pasar hilirisasi LTJ secara global mencapai US$95 miliar, dan Indonesia berpotensi menguasai 1%–5% dari nilai pasar global tersebut. Dengan kata lain, potensi nilai pasar LTJ Indonesia mencapai sekitar US$950 juta hingga US$4,75 miliar.
Tidak hanya itu, potensi nilai pasar untuk Indonesia bisa lebih besar. Sebab, LTJ terkait dengan mineral ikutan lain seperti besi (Fe), titanium (Ti), aluminium (Al), hingga silika (Si). “Kami mencoba menganalisis pasar atau potensi yang dapat Indonesia mainkan di kisaran 1%–5% industri dunia,” ujar Kepala BIM Brian Yuliarto, Selasa (10/2/2026).
Pemanfaatan mineral ikutan tersebut melalui hilirisasi diperkirakan bisa menghasilkan nilai pasar tambahan US$3,42 miliar. Dengan demikian, total potensi nilai pasar hilirisasi LTJ yang dapat diraup Indonesia mencapai US$7,42 miliar.
Peran dalam Transisi Energi
Hilirisasi LTJ memainkan peran penting di tengah era transisi energi. Logam tanah jarang dan turunannya memainkan peran kunci sebagai bahan utama dalam pembuatan magnet permanen yang digunakan di berbagai teknologi energi bersih, terutama motor listrik kendaraan listrik (EV) dan turbin angin. Berdasarkan kajian McKinsey’s Energy & Materials Practice, magnet berbasis LTJ seperti neodymium, praseodymium, dysprosium, dan terbium digunakan karena kemampuannya menghasilkan medan magnet yang sangat kuat dan efisien, sehingga memungkinkan motor listrik dan generator turbin beroperasi dengan performa tinggi dan efisiensi energi yang lebih baik dibanding alternatif lain.
Tanpa magnet LTJ ini, banyak teknologi utama transisi energi, termasuk motor listrik dan sistem pembangkit angin, akan bertumbuh lebih lambat atau kurang efisien karena sulit menemukan substitusi dengan karakteristik setara.
Prospek Pasar
Selain transisi energi, pengembangan pusat data juga mendorong permintaan global untuk mineral penting (critical minerals) dalam beberapa tahun terakhir. Merujuk laporan International Energy Agency (IEA) mencatat bahwa permintaan global untuk mineral-mineral energi penting terus meningkat pada 2024, termasuk LTJ. Tercatat pertumbuhannya sekitar 6% – 8% dibanding tahun sebelumnya karena permintaan dari aplikasi energi bersih seperti kendaraan listrik, penyimpanan baterai, energi angin, dan jaringan listrik.
Pertumbuhan ini menunjukkan bahwa LTJ menjadi bagian penting dari transisi energi bersih global di luar logam baterai seperti lithium atau nikel. Meski permintaan naik, peningkatan pasokan juga terjadi, tetapi dalam banyak kasus pasokan tetap sangat terkonsentrasi secara geografis, terutama dalam proses pemurnian. Untuk LTJ dan mineral strategis lainnya, pertumbuhan produksi tetap didominasi oleh sejumlah kecil negara, khususnya China, yang menjadi pemain utama dalam pemurnian dan pengolahan unsur-unsur tersebut.
Adapun struktur produksi global LTJ hingga 2030 diproyeksikan masih sangat terkonsentrasi pada segelintir negara. Data menunjukkan bahwa pada tahap penambangan, China tetap menjadi pemain dominan dengan pangsa sekitar 51% dari total produksi dunia. Australia menyusul dengan sekitar 13%, sementara Myanmar berkontribusi sekitar 11%. Artinya, lebih dari tiga perempat pasokan tambang global dikendalikan oleh tiga negara tersebut.
Konsentrasi bahkan lebih tajam terjadi pada tahap pemurnian atau refining. China diperkirakan menguasai sekitar 76% kapasitas pemrosesan LTJ dunia pada 2030. Malaysia berada di posisi berikutnya dengan sekitar 9%, disusul Amerika Serikat sekitar 7%. Secara keseluruhan, tiga negara teratas mengendalikan lebih dari 90% kapasitas pemurnian global.
Kondisi ini menunjukkan bahwa meskipun beberapa negara mulai mengembangkan proyek tambang baru, rantai pasok LTJ global, terutama pada tahap hilir bernilai tambah tinggi, masih sangat terpusat.
Peran Perminas
Ingin bergerak cepat dan ikut menikmati pasar LTJ global, Badan Industri Mineral pun bergerak cepat merekomendasikan agar izin usaha pertambangan logam tanah jarang di Mamuju, Sulawesi Barat, nantinya dapat diberikan kepada PT Perusahaan Mineral Nasional (Perminas) sebagai mitra badan usaha milik negara (BUMN). Adapun, BIM berencana membangun dua pilot project industri hilirisasi logam tanah jarang (LTJ) atau rare earth elements (REE) di Mamuju, Sulawesi Barat. Langkah tersebut dilakukan sambil menunggu persetujuan penerbitan izin usaha pertambangan (IUP) dari Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).
“Konteksnya adalah riset sambil menunggu proses administrasi dan rekomendasi yang kami sampaikan kepada Kementerian ESDM untuk penerbitan IUP yang kami rekomendasikan kepada Perminas,” tutur Brian. Menurut Brian, proyek di Mamuju juga ditujukan sebagai pembuktian kepada dunia bahwa Indonesia mampu menjadi pemain strategis dalam industri pengolahan LTJ. Selain itu, proyek ini diharapkan dapat menarik minat investor asing untuk masuk ke Indonesia.
“Kita ingin menunjukkan kepada dunia bahwa Indonesia bisa menjadi pemain strategis dalam REE sehingga diharapkan dapat memberikan daya tarik bagi negara lain untuk masuk dan mendirikan industri downstreaming REE di Indonesia,” ujarnya.



