Prospek industri reksa dana saham pada tahun 2026 tetap optimis, meskipun Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) telah mencapai level tertinggi sepanjang masa (all-time high/ATH). Hal ini didorong oleh perbaikan outlook ekonomi dan peluang pasar keuangan yang terus berkembang.
Investment Specialist PT Manulife Aset Manajemen Indonesia, Dimas Ardhinugraha, menjelaskan bahwa meski IHSG sudah menyentuh rekor baru, reksa dana saham masih memiliki ruang pertumbuhan. Pada perdagangan Selasa (20/1/2026), IHSG mencatatkan ATH sebesar 9.134,70.
Menurutnya, kinerja IHSG pada 2025 lebih baik dibandingkan indeks LQ45. Namun, penguatan tersebut lebih banyak dipengaruhi oleh saham-saham dengan momentum tinggi dan katalis khusus, bukan oleh saham blue chip.
Memasuki 2026, situasi diharapkan berubah. Dengan harapan pemulihan aktivitas ekonomi dan pertumbuhan domestik, saham-saham berkapitalisasi besar atau blue chip diperkirakan kembali diminati investor. Kondisi ini diyakini akan menjadi penopang kinerja IHSG dan LQ45 ke depan.
“Meskipun IHSG sudah menyentuh level tertinggi, reksa dana saham tetap prospektif,” ujarnya.
Selain reksa dana saham, Dimas juga menilai reksa dana pendapatan tetap sebagai produk yang menarik pada tahun ini. Produk ini berpotensi diuntungkan dari arah kebijakan suku bunga yang lebih akomodatif, sekaligus menawarkan stabilitas imbal hasil bagi investor.
Dari sisi pengembangan produk, Manulife menilai portofolio reksa dana saat ini sudah mampu memenuhi kebutuhan investor. Fokus utama bukanlah menambah jumlah produk baru, melainkan menghadirkan inovasi dan solusi investasi yang relevan dengan kebutuhan investor di berbagai kondisi pasar.
Hingga akhir Desember 2025, total dana kelolaan (asset under management/AUM) yang dikelola oleh Manulife Aset Manajemen Indonesia tercatat lebih dari Rp124 triliun. Dimas memperkirakan dengan outlook ekonomi yang semakin membaik, minat investor terhadap aset-aset keuangan dan instrumen investasi akan meningkat, termasuk reksa dana.
Tren penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI Rate) dan suku bunga deposito perbankan mulai mendorong investor mencari alternatif investasi yang menawarkan potensi imbal hasil lebih menarik dibandingkan simpanan konvensional.
Namun demikian, peluang tersebut tetap diiringi tantangan yang perlu dicermati. Perbaikan iklim investasi sangat bergantung pada aktivitas ekonomi riil. Salah satu faktor kunci yang menjadi perhatian adalah realisasi belanja pemerintah.
Pada 2026, percepatan belanja negara memegang peranan penting dalam mendorong pemulihan ekonomi. Jika realisasinya berjalan lambat, siklus pemulihan ekonomi berisiko tertunda.
Pemulihan kepercayaan investor diharapkan terjadi secara berkelanjutan, sehingga minat investor asing kembali meningkat. Dengan demikian, terdapat tiga faktor utama yang saling berkaitan dalam menjaga prospek investasi di 2026, yaitu percepatan realisasi belanja negara, kelonggaran ruang fiskal, dan pemulihan keyakinan investor.
Selain faktor domestik, pelaku pasar juga perlu mencermati dinamika global. Situasi geopolitik dunia serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat masih menjadi faktor eksternal yang berpotensi memengaruhi sentimen pasar dan arah investasi ke depan.









