BeritaKesehatanNasional

Lonjakan Gagal Ginjal di Sambas: 756 Warga Cuci Darah, 51 Meninggal Sepanjang 2025

12
×

Lonjakan Gagal Ginjal di Sambas: 756 Warga Cuci Darah, 51 Meninggal Sepanjang 2025

Sebarkan artikel ini

Krisis Kesehatan yang Mengancam Keluarga di Kabupaten Sambas

Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, sedang menghadapi krisis kesehatan yang memprihatinkan. Sepanjang tahun 2025, sebanyak 756 warga terpaksa menjalani cuci darah rutin karena gagal ginjal kronis. Selain itu, 51 orang lainnya meninggal dunia akibat komplikasi yang tidak bisa diatasi. Angka ini bukan sekadar angka, melainkan cerita duka dari ratusan keluarga yang kehilangan pencari nafkah, anak-anak yang harus berhenti sekolah demi biaya pengobatan, dan mimpi masa depan yang perlahan hilang.

Dinas Kesehatan Sambas menyebut situasi ini sebagai “bom waktu” yang sudah meledak. Semua pihak dituntut untuk segera bertindak agar jumlah korban tidak semakin bertambah.

Angka yang Mengerikan: Sambas Jadi Pusat Epidemi Gagal Ginjal di Kalbar

Hingga akhir November 2025, sebanyak 756 warga Sambas aktif menjalani hemodialisa. Angka ini naik tajam dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Dari jumlah tersebut, 51 orang meninggal dunia akibat komplikasi yang tidak bisa lagi dicegah. Mayoritas pasien adalah usia produktif antara 35–55 tahun, yaitu kepala keluarga yang tiba-tiba ambruk setelah bertahun-tahun mengabaikan gejala awal seperti kaki bengkak, sesak napas, atau tekanan darah yang tidak terkendali.

Di banyak desa pedalaman, pasien baru terdeteksi saat sudah dalam stadium akhir. Mereka datang ke puskesmas dengan wajah pucat dan badan lemas. Cerita mereka hampir sama: “Baru tahu sakit ginjal setelah pingsan di sawah.” Akibatnya, satu-satunya pilihan adalah cuci darah seumur hidup atau menunggu donor ginjal yang hampir mustahil didapat di daerah terpencil.

Penyebab Utama: Diabetes, Hipertensi, dan Pola Hidup yang Salah Kaprah

Diabetes dan hipertensi tetap menjadi dua penyebab utama yang membawa ratusan warga Sambas ke ruang dialisis. Makanan manis seperti kue tradisional, minuman kemasan, dan nasi putih berlebih setiap hari menjadi racun lambat yang merusak ginjal tanpa terasa. Ditambah garam berlebih pada ikan asin dan terasi—menu wajib masyarakat pesisir—membuat tekanan darah melonjak tinggi selama bertahun-tahun.

Obat pereda nyeri yang dijual bebas juga menjadi biang kerok lain. Banyak pekerja kebun atau nelayan yang rutin mengonsumsi obat sakit pinggang tanpa resep dokter, tanpa menyadari bahwa kandungan di dalamnya perlahan “membakar” ginjal. Kurang minum air putih di tengah cuaca panas, kebiasaan merokok, dan jarang olahraga menutup daftar panjang faktor risiko yang sebenarnya bisa dicegah sejak dini.

Upaya Pemerintah Daerah dan Harapan di Tengah Keputusasaan

Dinas Kesehatan Sambas kini gencar menggelar skrining gratis di setiap kecamatan. Petugas puskesmas turun ke desa-desa membawa tensimeter, alat cek gula darah, dan edukasi sederhana: kurangi gula, garam, rokok, dan rutin cek kesehatan. Beberapa desa bahkan membentuk “kelompok sadar ginjal” yang saling mengingatkan untuk minum air putih dan makan sayur.

Pemerintah juga berupaya menambah unit hemodialisa di rumah sakit umum daerah dan beberapa puskesmas besar. Namun, tantangan tetap besar: listrik sering padam, tenaga nefrologi langka, dan biaya transportasi pasien dari pulau-pulau kecil ke daratan sangat mahal. Banyak keluarga akhirnya terpaksa menjual sawah, ternak, bahkan rumah demi biaya cuci darah yang harus dilakukan dua hingga tiga kali seminggu.

Beban Keluarga dan Ancaman Kemiskinan Baru

Di balik angka 51 kematian itu, ada anak-anak yang jadi yatim piatu, istri yang tiba-tiba harus jadi tulang punggung keluarga, dan orang tua yang tak lagi bisa membantu anaknya karena ginjal mereka juga mulai bermasalah. Biaya hidup dengan cuci darah bukan main-main: transportasi, obat tambahan, dan makanan khusus bisa menghabiskan jutaan rupiah setiap bulan—jumlah yang tak terbayang bagi keluarga petani atau nelayan dengan penghasilan pas-pasan.

Kisah seperti ini terus berulang di Sambas: seorang ayah meninggalkan tiga anak kecil karena tak sanggup lagi cuci darah, seorang ibu menjual perhiasan kawin demi satu sesi dialisis, atau remaja putus sekolah untuk mengantar orang tuanya ke rumah sakit. Gagal ginjal bukan hanya soal kesehatan, tapi juga ancaman kemiskinan baru yang mengintai ribuan keluarga di perbatasan Indonesia ini.

Kesadaran Bersama untuk Menghentikan Tragedi

Gagal ginjal di Sambas adalah cermin dari apa yang terjadi di banyak daerah lain di Indonesia. Penyakit ini tak mengenal kaya atau miskin, tapi selalu lebih ganas menyerang mereka yang tak punya akses informasi dan layanan kesehatan memadai. Satu-satunya cara menghentikan laju tragedi ini adalah dengan kesadaran bersama: periksa kesehatan sebelum terlambat, ubah pola makan mulai hari ini, dan jangan anggap remeh gejala kecil yang sering diabaikan. Karena ginjal yang rusak tak pernah meminta izin sebelum menghentikan mimpi sebuah keluarga.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *