Bisnis

Pabrik Tekstil Raksasa Tumbang, Industri Kembang Kempis di 2025

×

Pabrik Tekstil Raksasa Tumbang, Industri Kembang Kempis di 2025

Sebarkan artikel ini


JAKARTA — Seiring berjalannya tahun 2025, industri tekstil nasional menghadapi tantangan yang semakin besar. Banyak pabrik raksasa tekstil yang akhirnya terpaksa menutup operasinya karena tekanan dari berbagai faktor eksternal dan internal. Salah satu penyebab utama adalah minimnya permintaan domestik akibat banjir impor yang tidak terkendali.

Berdasarkan data dari Asosiasi Produsen Serat & Benang Filamen Indonesia (APSyFI), sepanjang tahun ini terdapat lima pabrik tekstil hulu yang tutup. Hal ini menyebabkan ribuan pekerja terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). Gelombang penutupan pabrik telah terjadi sejak dua tahun lalu, dengan total 60 perusahaan yang terkena dampaknya, termasuk Sritex Group—salah satu raksasa industri tekstil di Indonesia yang menyerap lebih dari 10.000 pekerja.

Beberapa tantangan yang dihadapi industri tekstil antara lain regulasi tata niaga impor yang sering berubah-ubah. Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No. 36/2023 awalnya dibuat untuk mengatur arus impor, tetapi justru membuat impor makin mudah masuk ke pasar dalam negeri. Perubahan-perubahan aturan tersebut mempermudah barang impor tanpa adanya syarat teknis yang ketat. Revisi aturan ini memberikan angin segar bagi pengusaha TPT, meskipun praktik impor ilegal lewat “pelabuhan tikus” masih menjadi isu yang belum terselesaikan.

Kondisi ini juga memunculkan dugaan adanya permainan mafia impor, khususnya terkait barang-barang impor ilegal seperti pakaian bekas atau thrifting. Kondisi ini membuat industri tekstil dalam negeri sulit bersaing dengan produk impor yang lebih murah. Akibatnya, arus kas perusahaan seret dan efisiensi menjadi satu-satunya opsi, hingga akhirnya banyak perusahaan gulung tikar.

Sekretaris Jenderal APSyFI Farhan Aqil menyatakan bahwa penutupan pabrik tersebut merupakan tanda deindustrialisasi dini. Menurutnya, penurunan produksi di industri hulu tekstil sangat signifikan. Ia memperkirakan akan ada penutupan pabrik lainnya tahun depan jika pemerintah tidak mampu mengontrol dan memberikan transparansi tentang siapa saja yang mendapatkan kuota impor. Banjirnya produk impor dengan harga dumping, seperti kain dan benang, menjadi faktor utama penutupan perusahaan-perusahaan tersebut.

Daftar pabrik tekstil raksasa yang tumbang pada 2025:

  1. Pabrik Poliester Asia Pacific Fibers
    Pada Juli 2025, PT Asia Pacific Fibers Tbk (POLY) mengumumkan penutupan permanen pabriknya di Karawang. Pabrik tersebut telah ditutup sementara sejak 1 November 2024. Setelah masa penutupan sementara selama enam bulan, fasilitas unit produksi di pabrik tersebut disebut tidak layak secara teknis dan komersial. Penutupan ini menyebabkan penurunan penjualan produk polyester staple fiber, polyester chips, dan performance fabrics sebesar 76%.

  2. Pabrik Poliester PT Polychem Indonesia (ADMG)
    Produsen kimia dan poliester ini resmi menutup lini bisnis poliester lantaran rugi berkepanjangan. Kerugian telah terjadi sejak pandemi Covid-19. Perusahaan memutuskan untuk menutup operasional segmen poliester pada 14 November 2025 secara permanen.

  3. Sritex Group
    PT Sri Rejeki Isman Tbk (SRIL) alias Sritex resmi menutup operasionalnya pada 1 Maret 2025. Penutupan ini disebabkan oleh beberapa kasus kegagalan pembayaran utang hingga berujung pailit. Tim kurator Sritex telah melakukan PHK terhadap total 10.969 pekerja sepanjang Januari-Februari 2025.

  4. Pabrik Serat & Benang Poliester Sulindafin
    Setelah melakukan PHK ribuan buruh pada 2019 di Cikarang, Sulindafin juga resmi menutup produksinya untuk segmen serat dan benang poliester di Tangerang. Hal ini menjadi bukti industri tekstil yang semakin tersungkur imbas ketidakmampuan bersaing dengan produk-produk impor murah.

  5. Pabrik Benang PT Sejahtera Bintang Abadi Textile (SBAT)
    PT Sejahtera Bintang Abadi Textile Tbk (SBAT) resmi dinyatakan pailit oleh Pengadilan Niaga. SBAT merupakan produsen benang hasil daur ulang atau recycle yang mayoritas sahamnya dimiliki oleh Tan Heng Lok sebesar 34,48%.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *