BeritaKesehatanTeknologi

Penelitian FKUI: AI Bantu Dokter Ambil Keputusan Medis

15
×

Penelitian FKUI: AI Bantu Dokter Ambil Keputusan Medis

Sebarkan artikel ini

Inovasi Kesehatan Berbasis AI

DokterGPT, sebuah platform asistensi klinis berbasis kecerdasan buatan (AI), baru saja meraih pendanaan dari Program Akselerasi Startup UI Incubate 2025. Inovasi ini dikembangkan oleh dua residen Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) bersama tiga alumni FKUI serta kolaborator dari Fakultas Teknik Universitas Indonesia (FTUI). Tujuan utamanya adalah untuk meningkatkan ketepatan dan kecepatan pengambilan keputusan medis.

Solusi untuk Masalah Kesehatan yang Mendesak

Menurut salah satu penggagasnya, dr. Muhammad Raoul Taufiq Abdullah, MKM, DokterGPT dirancang untuk menjawab masalah mendasar di layanan kesehatan Indonesia, yaitu lambatnya akses ke informasi klinis standar dan tingginya risiko kesalahan medis. Survei internal FKUI menunjukkan bahwa 90 persen dokter kesulitan memperoleh referensi medis secara cepat, sementara 73 persen membutuhkan waktu lebih dari sepuluh menit hanya untuk mencari dosis obat. Hal ini berkontribusi pada risiko medication error yang masih berada di kisaran 9–10 persen.

Keunggulan Platform DokterGPT

Dengan memanfaatkan model GPT yang dikustomisasi dan teknologi Retrieval Augmented Generation (RAG), basis data platform ini kini mencakup lebih dari 400 diagnosis, 200 pedoman nasional, dan 1.000 data obat yang dikurasi oleh dokter Indonesia. Integrasi data tersebut memungkinkan sistem memberi rekomendasi klinis yang lebih terstandarisasi.

Platform ini dilengkapi dengan fitur pemeriksaan interaksi obat, kalkulasi dosis pediatrik maupun dewasa, serta panduan tatalaksana. Dengan langkah-langkah klinis yang disajikan secara ringkas, dokter dapat memvalidasi keputusan medis dengan lebih cepat dan aman.

Akses yang Mudah dan Praktis

Salah satu keunggulan lain platform ini adalah kemudahannya diakses melalui WhatsApp tanpa instalasi aplikasi tambahan. Pendekatan ini membuat DokterGPT dapat digunakan di berbagai fasilitas kesehatan, termasuk puskesmas dan klinik daerah dengan infrastruktur digital terbatas. Dalam praktik sehari-hari, akses instan semacam ini mempercepat proses konsultasi internal dan respons terhadap kondisi pasien.

Fitur Edukatif dan Pengembangan Masa Depan

Selain membantu pengambilan keputusan, DokterGPT juga menawarkan fitur edukatif, seperti simulasi klinis AI, penyusunan SOAP otomatis, serta integrasi voice-to-text yang memudahkan dokumentasi medis. Tim pengembang menargetkan fitur lanjutan berupa analisis radiologi, interpretasi EKG, dan pembacaan hasil laboratorium, yang berpotensi memberi dukungan lebih besar dalam diagnosis objektif.

Peran Indonesia dalam Inovasi Kesehatan Digital

Sebagai rekan penggagas, dr. Armand Achmadsyah menekankan pentingnya Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta dalam bidang kesehatan digital. “Teknologi AI di dunia kesehatan berkembang sangat cepat. Indonesia tidak boleh hanya menjadi pengguna; kita harus menjadi bagian dari negara yang ikut menciptakan dan memimpin inovasi,” ujarnya.

Tantangan dan Peluang Masa Depan

Sejak diluncurkan, lebih dari 46.000 tenaga kesehatan telah memanfaatkan DokterGPT, mulai dari dokter umum, spesialis, perawat hingga mahasiswa kedokteran. Angka ini mencerminkan tingginya kebutuhan di lapangan terhadap alat bantu klinis yang mampu mempercepat pengambilan keputusan berbasis data.

Pendanaan sebesar Rp 499,8 juta dari UI Incubate 2025 akan digunakan untuk memperkuat teknologi inti DokterGPT dan memperluas basis data medis nasional. Selain itu, tim menargetkan pengembangan fitur diagnostik berbasis AI yang lebih canggih, serta kerja sama dengan rumah sakit dan industri farmasi untuk meningkatkan adopsi di berbagai wilayah.

Prediksi Masa Depan

Dalam beberapa tahun ke depan, sistem seperti DokterGPT diprediksi akan menjadi bagian integral dari proses praktik kedokteran modern, sebuah alat bantu yang memungkinkan dokter mengambil keputusan lebih cepat, berbasis data, dan tetap mengutamakan keselamatan pasien.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *