BisnisFilm

Ujian Bioskop Tradisional di Tengah Persaingan Streaming

9
×

Ujian Bioskop Tradisional di Tengah Persaingan Streaming

Sebarkan artikel ini

Perkembangan Industri Bioskop di Indonesia

Industri bioskop konvensional di Indonesia saat ini sedang menghadapi fase yang tidak mudah. Lonjakan konsumsi konten digital melalui platform OTT (Over The Top) membuat daya tahan pelaku industri sinema diuji. Belum lagi agresivitas platform streaming internasional dan perubahan perilaku penonton pasca-pandemi, membuat operator layar nasional harus melakukan inovasi yang tidak sekadar kosmetik.

Kedua jenis usaha hiburan tersebut bersaing ketat. Platform digital atau OTT mulai bermunculan secara massif. Meski demikian, antara bioskop dan platform OTT memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing, terutama dalam hal metode distribusi dan pengalaman penonton.

Bioskop menawarkan pengalaman menonton yang imersif dan sosial secara langsung di lokasi fisik. Sedangkan OTT menyediakan konten melalui internet secara on-demand dan personal. OTT unggul dalam pengumpulan data pelanggan untuk personalisasi dan menawarkan kenyamanan. Sementara itu, bioskop menyediakan pengalaman yang unik dan belum dapat ditandingi oleh OTT.

Evaluasi Deloitte Private Terhadap Cinema XXI

Di tengah dinamika tersebut, pengelolaan internal Cinema XXI, salah satu entitas usaha hiburan terbesar di Indonesia, kembali disorot setelah evaluasi tahunan Deloitte Private terhadap strategi dan tata kelola perusahaan swasta di Indonesia.

Meskipun kembali mendapatkan apresiasi dari Deloitte melalui program Indonesia’s Best Managed Companies 2025, yang menarik bukan hanya penghargaan itu sendiri, tetapi bagaimana hasil evaluasi tersebut menjadi cermin tantangan nyata yang dihadapi industri layar lebar.

Sebagai pemain dengan jaringan bioskop terbesar di Indonesia, performa manajerial Cinema XXI tidak hanya relevan bagi bisnisnya, tetapi juga bagi ekosistem perfilman nasional yang bertumpu pada keberlanjutan model distribusi layar.

Perubahan Pola Konsumsi Hiburan

Perubahan pola konsumsi hiburan menjadi isu paling krusial. Masyarakat kini lebih sering menikmati konten di rumah melalui layanan berlangganan yang menawarkan film global secara cepat. Kondisi ini menekan kehadiran bioskop sebagai destinasi rekreasi utama.

Cinema XXI harus merespons lewat pendekatan baru, mulai dari penataan ulang program film, investasi pada kualitas proyeksi dan audio, hingga strategi harga tiket yang lebih fleksibel untuk menjaga arus pengunjung.

Menurut Direktur Utama Cinema XXI Suryo Suherman, perusahaan tidak bisa lagi mengandalkan ekspansi fisik semata. Dia menegaskan pentingnya inovasi yang berorientasi pada pengalaman penonton.

“Upaya kami tidak hanya tentang menambah jumlah layar, tetapi memastikan pengalaman sinema tetap relevan dan memiliki nilai yang tidak didapatkan dari konsumsi digital,” ujar Suryo di Jakarta.

Pernyataan itu menunjukkan bahwa strategi perusahaan bergeser dari sekadar pertumbuhan kuantitas menuju penguatan kualitas layanan.

Kemampuan Adaptasi dan Tantangan yang Menghadang

Deloitte Indonesia mencatat bahwa resiliensi Cinema XXI terletak pada kemampuan beradaptasi di tengah tekanan industri yang semakin kompleks. Best Managed Companies Leader Deloitte Indonesia Dionisius Damijanto menyebut bahwa konsistensi dalam strategi dan tata kelola, dari budaya organisasi hingga pengelolaan risiko, menjadi salah satu alasan perusahaan tetap stabil.

“Cinema XXI menunjukkan kemampuan adaptasi yang terukur dan keberhasilan menjaga pertumbuhan berkelanjutan,” kata Dionisius.

Namun tantangan di depan tidak kecil. Persaingan layar semakin ketat dengan kehadiran pemain global seperti IMAX dan ekspansi format premium lain yang menuntut investasi lebih besar. Sementara itu, produsen film Indonesia juga mendorong diversifikasi konten dan pemutaran yang lebih merata. Sehingga menguji kemampuan bioskop dalam menjaga keseimbangan antara tontonan populer dan film-film independen yang membutuhkan ruang pemutaran.

Selain itu, tekanan biaya operasional menjadi faktor penting yang jarang terlihat di permukaan. Kenaikan tarif sewa di pusat perbelanjaan, biaya listrik untuk proyeksi digital, hingga kebutuhan peningkatan infrastruktur membuat operator bioskop harus berhitung lebih cermat dalam membuka atau mempertahankan cabang.

Dalam skema ini, tata kelola yang kuat bukan lagi keunggulan, melainkan kebutuhan dasar agar bisnis bisa mempertahankan margin. Konteks ini membuat evaluasi Deloitte terhadap Cinema XXI mendapatkan relevansi.

Pentingnya Manajemen Perusahaan dalam Era Perubahan

Pengakuan terhadap strategi dan tata kelola perusahaan bukan sekadar penilaian prestasi. Tapi refleksi bagaimana operator bioskop terbesar di Indonesia mencoba bertahan dalam era di mana penonton memiliki lebih banyak pilihan, sementara biaya menjalankan bisnis semakin menantang.

Di banyak negara, industri bioskop mengalami kontraksi; Indonesia dinilai berada pada persimpangan yang sama. Dengan landskap hiburan yang terus berubah, keputusan strategis Cinema XXI, dari investasi teknologi hingga kebijakan kurasi film, akan ikut menentukan arah industri dalam beberapa tahun mendatang.

Dalam situasi seperti ini, sorotan terhadap manajemen perusahaan menjadi semakin penting, bukan untuk merayakan penghargaan, tetapi untuk memahami bagaimana pemain terbesar di pasar berupaya menjaga napas industri layar lebar nasional tetap menyala.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *