Pergerakan Militer AS ke Timur Tengah Menunjukkan Kekhawatiran
Meski Presiden AS Donald Trump mengindikasikan bakal menunda serangan ke Iran, pergerakan militer AS di lapangan menunjukkan sebaliknya. Kapal-kapal induk AS dan pesawat tempur terus dikerahkan menuju Timur Tengah.
Menurut laporan, kapal induk AS USS Abraham Lincoln melanjutkan perjalanannya ke Timur Tengah dan diperkirakan akan tiba dalam beberapa hari ke depan. Departemen Pertahanan AS sebelumnya telah memulai pemindahan kelompok penyerang kapal induk itu dari Laut Cina Selatan. Mereka dialihkan ke wilayah tanggung jawab Komando Pusat AS (CENTCOM), yang mencakup Timur Tengah dan wilayah sekitarnya.
Kapal induk bertenaga nuklir USS Abraham Lincoln (CVN-72) menjadi unit utama yang terlibat dalam gerakan ini. Pergerakan kelompok penyerang yang mencakup kapal induk, pengawal permukaan, dan setidaknya satu kapal selam penyerang itu akan memakan waktu sekitar satu minggu. Kapal induk USS George HW Bush juga dilaporkan sedang dalam perjalanan ke wilayah tersebut.
Pergerakan ini terjadi di tengah upaya Israel untuk mengeksplorasi skenario respons terhadap potensi serangan Iran. Sumber melaporkan peningkatan kehadiran jet tempur Amerika dan aset pendukung tempur, dan kemungkinan skuadron tempur mencapai pangkalan Amerika di wilayah tersebut.

Kapal induk USS Abraham Lincoln. Kapal pembawa pesawat tempur itu dilaporkan tiba di Timur Tengah pada Akhir Januari 2026. – (Dok Angkatan Laut AS)
Sejak serangan AS terhadap fasilitas nuklir Iran pada bulan Juni lalu, Washington telah menarik banyak kemampuan militernya dari kawasan tersebut dan mengalihkannya ke Karibia dan Asia Timur.
Alasan Trump Mundur dari Serangan Militer Terhadap Iran
Axios mengutip para pejabat AS dan Israel yang mengatakan bahwa ada empat alasan yang mendorong Presiden AS Donald Trump untuk mundur dari melancarkan serangan militer terhadap Iran pada Rabu lalu. Salah satunya adalah kurangnya jumlah pasukan dan alat tempur Amerika di kawasan Timur Tengah untuk menyerang Iran dan untuk menangani tanggapan Iran terhadap serangan Amerika.
Alasan kedua yang mendorong Trump untuk mundur dari serangan terhadap Iran adalah peringatan yang dikeluarkan oleh negara-negara sekutu Amerika, yang memperingatkan potensi konsekuensi terhadap stabilitas kawasan.
Iran telah menjanjikan serangan terhadap Israel dan seluruh pangkalan militer AS di Timur Tengah jika diserang. Hal itu disebut membuat khawatir PM Israel Benjamin Netanyahu dan negara-negara Arab yang meminta serangan AS ke Iran dibatalkan.
Proyektil dari Iran menghantam Tel Aviv, Israel, Sabtu dini hari, 14 Juni 2025.
Menurut Axios, Netanyahu menelepon Trump pada 14 Januari dan mengatakan kepadanya bahwa Israel tidak siap untuk membela diri terhadap serangan Iran sebagai tanggapan terhadap serangan AS yang menjelang.
Peringatan Israel, khususnya, adalah faktor ketiga di balik kegagalan Trump memberikan lampu hijau untuk serangan militer terhadap Iran, menurut situs web tersebut.
Alasan keempat, menurut Axios, adalah adanya komunikasi jalur belakang antara Washington dan Teheran. Para pejabat Amerika mengatakan kepada situs yang sama bahwa Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi mengirim pesan teks kepada utusan AS Steve Wittkopf pada hari Rabu, berjanji bahwa pihak berwenang Iran akan menunda rencana eksekusi terhadap para pengunjuk rasa.
Persiapan Israel Menghadapi Potensi Serangan Iran
Di Tel Aviv, Channel 13 Israel melaporkan bahwa Kepala Staf Israel Eyal Zamir mengadakan pertemuan pada Ahad di markas Angkatan Udara untuk membahas skenario tanggapan Israel terhadap kemungkinan serangan Iran. Media tersebut mengutip manajer umum Israel Aerospace Industries yang mengatakan bahwa terdapat cukup rudal Arrow untuk mencegat rudal Iran.
Tekanan dari Amerika Serikat dan sekutunya Israel meningkat terhadap Teheran sejak demonstrasi rakyat meletus di Iran pada akhir Desember, sebagai bentuk protes terhadap memburuknya kondisi ekonomi dan kehidupan.
Sementara itu, Presiden Iran Masoud Pezeshkian memperingatkan pada Ahad bahwa setiap upaya pembunuhan terhadap Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei akan dianggap sebagai deklarasi perang habis-habisan terhadap Iran.

Warga Iran berjalan di samping papan reklame bertuliskan Iran Tanah Air Kami di Lapangan Enqelab di Teheran, Iran, 13 Januari 2026. – (EPA/ABEDIN TAHERKENAREH)
Pernyataan Pezeshkian muncul setelah wawancara dengan presiden AS di Politico, di mana dia mengatakan sudah waktunya “untuk mencari kepemimpinan baru bagi Iran.” Trump meminta para pemimpin Iran untuk fokus menjalankan negaranya dengan benar, “bukan membunuh ribuan orang untuk mendapatkan kendali”.
Pernyataan presiden AS ini muncul sebagai tanggapan atas tuduhan yang dibuat oleh Khamenei pada hari Sabtu bahwa Amerika Serikat dan Israel terlibat dalam apa yang ia gambarkan sebagai tindakan sabotase dan pembunuhan di Iran.
Sejak akhir Desember, Iran telah menyaksikan gelombang protes luas yang dimulai dengan pemogokan pedagang pasar di Teheran karena kondisi kehidupan yang memburuk, sebelum berubah menjadi demonstrasi yang mengangkat slogan-slogan politik. Menurut perkiraan sejumlah lembaga hak asasi manusia, lebih dari 3.000 orang terbunuh selama 21 hari protes, dan lebih dari 24.000 orang ditangkap.











