Perubahan Dinamika Politik di Amerika Latin Akibat Tindakan Militer AS terhadap Venezuela
Venezuela telah menjadi pusat perhatian global setelah tindakan militer AS yang mengarah pada penangkapan Presiden Nicolas Maduro. Peristiwa ini dinilai akan berdampak signifikan terhadap keseimbangan kekuatan di kawasan Amerika Latin dan Karibia, terutama dalam hal pengaruh China yang selama beberapa tahun terakhir telah berkembang pesat.
Peran China di Amerika Latin dan Karibia
Sejak pergantian abad, peran China di kawasan ini telah berkembang secara pesat, menawarkan peluang ekonomi sekaligus memicu kekhawatiran terhadap dominasi Beijing. Perusahaan-perusahaan milik negara China telah menjadi investor besar di sektor energi, infrastruktur, dan ruang angkasa. Selain itu, China juga telah melampaui Amerika Serikat sebagai mitra dagang terbesar di Amerika Selatan.
Pengaruh China tidak hanya terbatas pada ekonomi, tetapi juga mencakup budaya, diplomatik, dan militer. Pada Mei 2025, China menyelenggarakan pertemuan puncak dengan para pemimpin Amerika Latin dan Karibia di Beijing. Dalam acara tersebut, Presiden Xi Jinping mengumumkan batas kredit investasi senilai 9 miliar dolar AS untuk wilayah tersebut.
Kekhawatiran AS terhadap Pengaruh China
Amerika Serikat dan sekutunya khawatir bahwa China menggunakan hubungan ini untuk mencapai tujuan geopolitiknya, termasuk mengisolasi Taiwan dan memperkuat rezim pro-China di Kuba dan Venezuela. Meskipun Presiden Joe Biden menganggap China sebagai “pesaing strategis”, kebijakan AS terhadap Amerika Latin mulai berubah sejak terpilihnya kembali Donald Trump. Hal ini ditandai dengan langkah-langkah ekonomi yang tegas dan agresi militer langsung.
Pertumbuhan Ekonomi dan Perdagangan
Pada tahun 2000, pasar China hanya menyumbang kurang dari 2 persen ekspor Amerika Latin. Namun, pertumbuhan pesat China dan permintaan yang meningkat mendorong lonjakan komoditas di kawasan ini. Selama delapan tahun berikutnya, perdagangan tumbuh pada tingkat tahunan sebesar 31 persen. Pada 2021, perdagangan melampaui 450 miliar dolar AS. Angka ini tumbuh hingga memecahkan rekor 518 miliar dolar AS pada 2024.
Beberapa ekonom memperkirakan bahwa nilai perdagangan tersebut akan melebihi 700 miliar dolar AS pada tahun 2035. Saat ini, China menempati peringkat sebagai mitra dagang utama Amerika Selatan dan negara terbesar kedua di Amerika Latin secara keseluruhan, setelah Amerika Serikat.
Strategi Militer China di Amerika Latin
Strategi pemerintah China di Amerika Latin, sebagaimana didefinisikan dalam Buku Putih Kebijakan 2016, telah menggarisbawahi pentingnya kerja sama keamanan dan pertahanan. Upaya China untuk menjalin hubungan militer yang lebih kuat dengan negara-negara Amerika Latin meliputi penjualan senjata, pertukaran militer, dan program pelatihan.
Venezuela tetap menjadi pembeli utama perangkat keras militer China di kawasan ini setelah pemerintah AS melarang semua penjualan senjata komersial ke Caracas mulai tahun 2006. Argentina, Bolivia, dan Ekuador juga telah membeli pesawat militer China, kendaraan darat, sistem radar, senapan serbu, dan peralatan lainnya. Demikian pula, Kuba telah berupaya memperkuat hubungan militer dengan China, menjadi tuan rumah bagi Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok untuk kunjungan pelabuhan dan pelatihan.
Dampak Krisis di Venezuela terhadap China
Krisis di Venezuela juga membawa dampak terhadap kepentingan China di negara kaya minyak tersebut. Venezuela adalah penerima pinjaman terbesar keempat dari pemberi pinjaman resmi China, menerima komitmen sekitar 106 miliar dolar AS antara tahun 2000 dan 2023. Pada 2024, utang Venezuela ke China diperkirakan berjumlah sekitar $10 miliar.
Bloomberg mengutip sumber anonim melaporkan bahwa regulator keuangan utama China meminta pemberi pinjaman besar untuk melaporkan eksposur mereka ke Venezuela. Victor Shih, seorang profesor di Universitas California, San Diego, mengatakan bahwa jika pemerintah Venezuela menempatkan kreditor AS jauh di atas kreditor China, maka bank-bank China mungkin akan mengalami kerugian signifikan.
Hubungan Minyak antara China dan Venezuela
Selama bertahun-tahun, Beijing telah memberikan kredit kepada Venezuela dalam kesepakatan pinjaman minyak, yang menjadikan Tiongkok sebagai pembeli minyak mentah Venezuela terbesar. Pada bulan Desember, sebuah kapal tanker menuju China dan diperkirakan membawa minyak Venezuela disita oleh pasukan AS sebagai bagian dari kampanye Trump melawan rezim Maduro.
Dampak ekonomi bagi China mungkin akan bergantung pada pihak yang pada akhirnya mengambil kendali di Venezuela. Trump mengatakan AS akan “menjalankan” negara Amerika Selatan, namun hal ini mungkin dilakukan dalam bentuk rezim boneka dan bukan dalam bentuk pasukan AS. Hal ini akan memberi Beijing perlindungan untuk mencari penyelesaian langsung dengan Caracas daripada bernegosiasi dengan AS di tengah perang dagang yang sudah menantang.
Trump mengatakan AS akan mengeksploitasi cadangan minyak Venezuela yang kaya untuk “membangun kembali” negaranya, sementara Menteri Luar Negerinya, Marco Rubio, menyarankan AS akan menyandera ekspor minyak Venezuela untuk memberikan pengaruh pada kepemimpinan baru di Caracas.
Shen Dingli, pakar hubungan internasional senior di Shanghai, mengatakan: “Jika pemerintahan baru Venezuela memutuskan untuk tidak menghormati perjanjian yang dibuat oleh pemerintahan Maduro, China tidak punya pilihan selain melanjutkan litigasi internasional.” Shen mengatakan tindakan hukum apapun akan ditujukan pada Venezuela, bukan AS.











