Departemen Kehakiman Amerika Serikat (DOJ) mengungkapkan ribuan dokumen yang terkait dengan kasus kejahatan seksual yang melibatkan Jeffrey Epstein, seorang terpidana yang meninggal dunia. Pengungkapan ini dilakukan pada Jumat (19/12/2025), waktu setempat. Dokumen-dokumen tersebut mencakup nama-nama tokoh ternama di berbagai bidang, termasuk mantan Presiden AS Bill Clinton. Namun, satu nama besar yang justru tidak muncul dalam dokumen tersebut adalah Presiden Donald Trump.
Pengungkapan ini merupakan bagian awal dari arsip yang dimiliki oleh DOJ. Sebagian besar dokumen yang dirilis mengalami penyuntingan (redacted). Penyuntingan ini dilakukan karena proses penelaahan yang rumit serta kewajiban untuk melindungi identitas para korban Epstein. Langkah ini juga dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap undang-undang yang disahkan oleh Kongres pada November lalu, yang memaksakan pengungkapan seluruh berkas terkait Epstein. Meskipun undang-undang ini disetujui secara luas, sebelumnya Trump telah berusaha keras untuk menjaga agar dokumen tetap disegel.
Namun, rilis dokumen yang terbatas dan penuh penyuntingan menimbulkan kekecewaan, termasuk di kalangan Partai Republik. Beberapa pihak menilai bahwa kebijakan ini tidak cukup untuk meredam skandal yang bisa menjadi beban bagi partai menjelang pemilu paruh waktu 2026. Ketiadaan rujukan terhadap Trump menjadi perhatian utama, mengingat foto dan dokumen terkait dirinya telah muncul bertahun-tahun dalam rilis Epstein sebelumnya. Contohnya, nama Trump tercantum dalam manifes penerbangan pesawat pribadi Epstein yang dirilis DOJ pada Februari lalu.
Isi Penting Lain dan Foto Tokoh Terkenal di Pusaran Skandal Epstein
Dokumen terbaru juga menyertakan pengaduan kepada FBI pada tahun 1996 yang menuduh Epstein terlibat dalam “pornografi anak”, jauh sebelum aparat penegak hukum menyelidiki tindakan Epstein secara serius. Banyak selebriti muncul dalam foto-foto yang dirilis, seperti almarhum penyiar Walter Cronkite, musisi Mick Jagger, Michael Jackson, Diana Ross, pengusaha Inggris Richard Branson, serta mantan Duchess of York, Sarah Ferguson. Banyak foto yang tidak bertanggal dan tanpa konteks, dan tidak satu pun dari tokoh tersebut dituduh melakukan pelanggaran terkait Epstein.
Andrew Mountbatten-Windsor (Pangeran Andrew) juga tampak dalam salah satu foto. Mantan Duke of York—yang kehilangan gelar kerajaan karena kedekatannya dengan Epstein—telah membantah segala tuduhan. Skandal Epstein telah menjadi isu politik sensitif bagi Trump, yang sebelumnya sering mendorong teori konspirasi terkait Epstein kepada para pendukungnya. Rilis pekan ini memuat bukti dari beberapa penyelidikan, termasuk foto-foto Clinton. Namun, hampir tidak ada foto atau dokumen yang menyebut Trump, meski hubungan pertemanan antara Trump dan Epstein pada 1990-an hingga awal 2000-an sudah lama diketahui sebelum keduanya berselisih menjelang vonis pertama Epstein pada 2008.
Trump tidak pernah dituduh melakukan pelanggaran dan membantah mengetahui kejahatan Epstein. Salah satu berkas berisi foto Trump dilaporkan sempat ada, namun kemudian hilang dari kumpulan data DOJ pada Sabtu. Anggota DPR dari Partai Demokrat menyoroti hal ini dan menuntut penjelasan. Media AS melaporkan hingga 16 foto dihapus dari situs DOJ. Hingga kini, DOJ dan Gedung Putih belum memberikan tanggapan resmi.
Proses Penyuntingan dan Reaksi Korban
Banyak dokumen yang dirilis disunting hampir sepenuhnya—bahkan ada berkas ratusan halaman yang seluruhnya dihitamkan. DOJ mengakui masih meninjau ratusan ribu halaman lain untuk kemungkinan rilis lanjutan. Salah satu korban Epstein, Marina Lacerda, menyatakan kemarahan atas banyaknya penyuntingan dan dokumen yang belum dibuka. “Kami semua marah. Ini seperti tamparan lagi. Kami mengharapkan jauh lebih banyak,” ujarnya kepada MS NOW.
Bulan lalu, Demokrat di DPR merilis ribuan email dari properti Epstein, termasuk satu email yang menyebut Trump “mengetahui tentang para gadis”, tanpa penjelasan lebih lanjut. Trump menepisnya dan menuduh Demokrat menyebarkan “Hoaks Epstein”. Sementara itu, DOJ menyoroti Clinton dengan mempublikasikan gambar yang diklaim menunjukkan Clinton bersama korban Epstein. Pihak Clinton membantah dan menilai Gedung Putih berupaya mengalihkan perhatian. Gedung Putih menyatakan rilis tersebut mencerminkan transparansi dan komitmen terhadap keadilan bagi para korban, seraya menegaskan bahwa pengungkapan terjadi karena mandat Kongres.
Undang-undang pengungkapan mewajibkan DOJ menyerahkan informasi tentang penanganan penyelidikan Epstein, termasuk laporan internal dan email. Namun, materi tersebut tampaknya belum termasuk dalam rilis Jumat. Hukum juga mengizinkan DOJ menahan informasi pribadi korban serta materi yang berpotensi mengganggu penyelidikan aktif.











