BencanaBeritaNasional

Bandung Terendam Banjir, Dedi Mulyadi Beberkan 3 Solusi Strategis, Pemprov Jabar Siap Lakukan Ini

Langkah Strategis Pemprov Jabar untuk Mengatasi Banjir di Bandung

Banjir kembali melanda wilayah Kecamatan Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, setelah hujan deras mengguyur wilayah tersebut pada Kamis (4/12/2025). Wilayah ini kembali terendam air yang menyebabkan gangguan bagi masyarakat setempat. Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, memberikan penjelasan mengenai tiga langkah strategis yang akan dilakukan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Barat untuk mengatasi masalah banjir yang sering terjadi di daerah tersebut.

Tiga Langkah Utama yang Akan Dilakukan

Langkah pertama yang direncanakan adalah pemulihan tata ruang kawasan hulu dengan memperluas area ruang terbuka hijau. Dedi menekankan bahwa kebijakan ini penting untuk mengembalikan fungsi ekologis wilayah tersebut. Meskipun kemungkinan besar akan mendapat penolakan dari pihak-pihak yang telah lama memanfaatkan wilayah hulu, ia menegaskan bahwa hal ini harus dilakukan.

“Tetapi ini harus dilakukan. Tata ruangnya harus dikembalikan agar fungsi ekologisnya berjalan kembali,” ujar Dedi.

Langkah kedua adalah menghentikan perubahan fungsi lahan, terutama dari kawasan perkebunan teh dan hutan menjadi lahan sayuran seperti kentang dan komoditas lain. Dedi menyebut aktivitas tersebut sebagai penyebab utama meningkatnya sedimentasi yang masuk ke Sungai Citarum.

“Perkebunan yang berubah harus dikembalikan menjadi perkebunan teh atau tanaman keras lainnya yang tidak menambah beban sedimentasi,” katanya.

Langkah ketiga adalah membangun bendungan di Kertasari sebagai bagian dari pengendalian air dari wilayah hulu. Upaya ini akan dijalankan secara simultan dan keberhasilannya membutuhkan dukungan berbagai pihak.

“Saya meminta semua pihak tidak hanya berteriak ketika banjir. Mari bersama menyelesaikan hulunya,” katanya.

Penanganan Banjir yang Harus Dilakukan Secara Komprehensif

Selain itu, Dedi mengkritisi pemberian izin pembangunan perumahan yang menimbun area sungai dan rawa. Ia menegaskan bahwa praktik tersebut harus dihentikan dan dievaluasi ulang. Ia juga meminta Pemerintah Kabupaten Bandung dan Pemerintah Kota Bandung untuk bekerja sama menata kembali tata ruang, termasuk menghidupkan kembali danau-danau kecil dan cekungan alami yang kini telah berubah menjadi permukiman dan kawasan komersial.

“Penanganan banjir tidak bisa hanya fokus pada hilir. Kita harus berani mengembalikan fungsi-fungsi alam. Jika tidak, banjir akan terus berulang setiap tahun,” ucapnya.

Data Korban Banjir di Kabupaten Bandung

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Bandung melaporkan bahwa sebanyak 34.497 warga terdampak banjir yang melanda wilayah tersebut. Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bandung, Wahyudin, menjelaskan bahwa sejumlah kecamatan mengalami banjir cukup serius hingga Jumat (5/12/2025).

“Data kecamatan terdampak banjir parah adalah Dayeuhkolot dengan warga terdampak sekitar 25.918 jiwa, Baleendah 5.579 jiwa, dan Bojongsoang sekitar 3.000 jiwa,” kata Wahyudin.

Ia menambahkan, banjir di Kabupaten Bandung membuat 162 kepala keluarga (KK) atau kurang lebih 457 orang harus dipindahkan ke tempat pengungsian. Menurut Wahyudin, BPBD terus bekerja sama dengan berbagai pihak terkait untuk memastikan proses penanganan korban banjir berlangsung optimal.

Imbauan untuk Masyarakat

Selain itu, pihak BPBD mengimbau masyarakat agar tetap siaga menghadapi potensi cuaca ekstrem dan segera menyampaikan laporan apabila terjadi perkembangan situasi di lapangan guna mempercepat penanganan. Dengan langkah-langkah yang diterapkan, diharapkan dapat mengurangi risiko banjir dan memitigasi dampaknya terhadap masyarakat.

Exit mobile version