BeritaEkonomi

Ekonom Perhatikan Dua Sisi Konsumsi RI: Tabungan Meningkat, Kelas Menengah Tertekan

Perilaku Konsumsi yang Berbeda di Kalangan Masyarakat Indonesia

Ekonom Perhatikan Dua Sisi Konsumsi RI, Achmad Nur Hidayat, mengkritik hasil survei konsumen Bank Indonesia (BI) dalam beberapa bulan terakhir. Survei tersebut menunjukkan bahwa masyarakat Indonesia cenderung menahan konsumsi dan lebih memilih menabung. Hal ini dinilai sebagai tanda adanya dualisme dalam perilaku masyarakat.

Dualisme dalam Perilaku Konsumsi

Achmad menyatakan bahwa masyarakat menengah ke atas lebih banyak menumpuk uang, sedangkan masyarakat menengah cenderung turun kelas menjadi kelompok rentan. Ia menyoroti bahwa pertanyaan mengapa orang Indonesia tiba-tiba menahan konsumsi dan memilih untuk menabung tidak bisa hanya dijawab dengan alasan “masyarakat sedang berhati-hati”. Sebaliknya, ia menilai bahwa ada dua wajah Indonesia yang bergerak berlawanan arah.

Survei Konsumen BI untuk Desember 2025 mencatat proporsi pendapatan untuk konsumsi sebesar 74,3 persen, yang merupakan tingkat terendah sejak Mei 2025. Sementara itu, proporsi tabungan meningkat menjadi 14,9 persen, tertinggi sejak Mei 2025. Pada saat yang sama, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) tetap kuat di 123,5.

Kondisi yang Menjadi Kekhawatiran

Menurut Achmad, meskipun tampaknya situasi baik dengan masyarakat yang optimistis dan peningkatan tabungan, kondisi tersebut menyimpan masalah serius. Di satu sisi, kelompok menengah ke atas terlihat membaik dengan menumpuk tabungan dan menunda belanja yang tidak wajib. Di sisi lain, kelompok menengah yang turun kelas mengalami penurunan daya beli, tabungan tergerus, dan perilaku mereka semakin mirip masyarakat bawah.

Achmad menjelaskan bahwa masyarakat menengah ke atas menahan konsumsi karena pilihan, bukan keterpaksaan. Sementara itu, masyarakat menengah yang turun kelas menahan konsumsi karena terdesak, sehingga tabungan tidak hanya ditambah, tetapi juga digunakan untuk menambal defisit harian.

Kondisi Kritis Kelas Menengah Turun Kelas

Achmad menilai bahwa kondisi kelas menengah yang turun kelas adalah situasi yang kritis. Sebab, kelas menengah adalah mesin konsumsi sekaligus bantalan stabilitas sosial. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa kelas menengah dan kelompok yang menuju kelas menengah mencakup 66,35 persen penduduk pada 2024, dengan porsi konsumsi pengeluaran dari dua kelompok tersebut mencapai 81,49 persen dari total konsumsi masyarakat.

Dampak Ekonomi yang Signifikan

Jika segmen ini goyah, ekonomi nasional akan ikut limbung. Achmad menyebut bahwa berbagai laporan menunjukkan penyusutan kelas menengah. Reuters melaporkan bahwa porsi kelas menengah turun dari 21,5 persen pada 2019 menjadi 17,1 persen pada 2024. Angka ini mencerminkan perlunya evaluasi tentang mengapa banyak bisnis merasa penjualan tidak lagi segarang dulu, mengapa konsumen melakukan trade down, dan mengapa sektor barang tahan lama mudah tersendat.

Kelompok menengah yang turun kelas sering terjebak di area abu-abu kebijakan. Mereka tidak miskin, sehingga tidak selalu mendapat bantuan, tetapi juga tidak lagi kuat untuk menjaga konsumsi. Mereka mulai menunda perawatan kesehatan, mengurangi kualitas pangan, menahan biaya pendidikan tambahan, dan menekan belanja produktif lain yang seharusnya meningkatkan mobilitas sosial.

Potensi Kondisi Jangka Panjang

Achmad berpandangan bahwa kenaikan tabungan pada kelas menengah ke atas bisa menjadi kebiasaan baru yang sehat. Namun, jika pola ini menjadi permanen pada menengah yang turun kelas, maka kita menghadapi perubahan struktural: kelas menengah mengecil, kelompok rentan membesar, dan konsumsi jangka panjang melemah.

Stabilitas dan Mesin Ekonomi

Meski kenaikan tabungan dapat memperkuat stabilitas keuangan, Achmad menegaskan bahwa jika penurunan konsumsi dipimpin oleh kelompok menengah yang turun kelas, permintaan domestik akan melemah dari sumber paling besar. Sektor seperti ritel non pangan, restoran kelas menengah, hiburan, perjalanan, otomotif, dan barang tahan lama akan merasakan dampaknya.

Rekomendasi Kebijakan

Achmad merekomendasikan kebijakan yang tidak hanya merayakan “tabungan meningkat”, tetapi juga bertanya siapa yang menabung dan siapa yang tabungannya habis. Untuk menengah ke atas, kebijakan terbaik adalah mengarahkan tabungan mereka menjadi pembiayaan produktif. Sementara itu, untuk menengah yang turun kelas, fokusnya harus pada pemulihan daya beli dan pengurangan ketidakpastian.

Stabilitas harga kebutuhan pokok, penciptaan pekerjaan formal dengan upah layak, serta perluasan jaring pengaman yang adaptif menjadi kunci utama. Achmad menegaskan bahwa pertanyaan besar bukan sekadar “mengapa masyarakat menahan konsumsi”, tetapi “siapa yang menahan konsumsi karena memilih, dan siapa yang menahan konsumsi karena terpaksa”.

Exit mobile version