EmasInvestasi

Geopolitik Memanas, Harga Emas Diprediksi Tembus Rp2,8 Juta Minggu Depan

Prediksi Pergerakan Harga Emas pada Pekan Depan

Ketidakpastian geopolitik global dan tekanan terhadap nilai tukar rupiah diperkirakan masih menjadi pendorong utama pergerakan harga emas pada pekan depan. Kondisi ini membuka peluang bagi harga logam mulia, termasuk emas batangan PT Aneka Tambang Tbk (Antam), untuk menembus level Rp 2,8 juta per gram.

Menurut pengamat pasar uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, tren harga emas dunia masih berada dalam fase fluktuatif dengan kecenderungan menguat. Hal ini sejalan dengan meningkatnya risiko global dan pelemahan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Namun, Ibrahim juga menegaskan bahwa potensi koreksi tetap terbuka. Support pertama harga emas dunia berada di level USD 4.553 per troy ounce, yang berpotensi menekan harga emas domestik ke kisaran Rp 2.638.000 per gram. Jika harga emas dunia turun lebih lanjut ke support kedua di USD 4.488, kemungkinan besar harga logam mulia akan turun ke Rp 2.560.000 per gram.

Di sisi lain, peluang penguatan dinilai lebih besar jika sentimen global kembali memanas. Resistance pertama emas dunia berada di level USD 4.655 per troy ounce dengan estimasi harga emas Antam di Rp 2.700.000 per gram. Kemudian, di resistance kedua, harga emas dunia kemungkinan besar akan mengalami penguatan hingga USD 4.706 per troy ounce, dengan harga logam mulia mencapai Rp 2.820.000 per gram.

Tekanan terhadap Rupiah dan Proyeksi Pelemahan

Dari sisi domestik, tekanan terhadap rupiah juga menjadi faktor pendukung kenaikan harga emas. Berdasarkan analisis teknikal, Ibrahim memproyeksikan rupiah masih berisiko melemah pada pekan depan. Target pertama pelemahan rupiah berada di Rp 16.920, sedangkan kemungkinan pelemahan lebih lanjut bisa mencapai Rp 17.100.

Ibrahim menyatakan bahwa kondisi ini menunjukkan bahwa intervensi Bank Indonesia serta kebijakan pemerintah sejauh ini belum mampu mendorong penguatan rupiah secara signifikan.

Faktor Global yang Mempengaruhi Pergerakan Harga Emas

Ada beberapa faktor global yang membuat harga emas dunia dan logam mulia bergerak fluktuatif. Pertama, eskalasi perang dagang antara Uni Eropa dan Tiongkok. Pekan lalu, Uni Eropa menerapkan bea dumping terhadap produk alumina leburan asal Tiongkok sebesar 88,7 persen hingga 110,6 persen, yang berpotensi dibalas oleh Tiongkok pada pekan depan.

Kedua, Amerika Serikat berencana menerapkan biaya impor sebesar 20 persen terhadap produk Eropa, dipicu isu geopolitik terkait Greenland. Ketiga, situasi politik dalam negeri AS yang terus memanas, termasuk pemanggilan Ketua The Fed Jerome Powell oleh Jaksa Agung terkait pembangunan Bank Sentral AS.

Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang masih berlanjut dan ketidakpastian kebijakan moneter global juga menjadi faktor yang mendorong investor kembali mencari aset aman seperti emas.

Emas sebagai Pilihan Lindung Nilai Utama

Dengan kondisi seperti ini, emas masih menjadi pilihan lindung nilai utama. Selama ketidakpastian global dan pelemahan rupiah berlanjut, peluang emas Antam menembus Rp 2,8 juta sangat terbuka.

Exit mobile version