BeritaIndustriInternasional

Ancaman impor baja China tekan produksi lokal hingga 2026

Industri baja nasional dihadapkan pada tantangan berat dalam beberapa tahun ke depan. Menurut Indonesian Iron and Steel Industry Association (IISIA), tekanan terhadap industri ini diperkirakan akan tetap tinggi hingga 2026. Pemulihan konsumsi domestik belum sepenuhnya terjadi, sementara impor baja murah masih mendominasi pasar dalam negeri.

Direktur Eksekutif IISIA Harry Warganegara menjelaskan bahwa hingga 2026, impor baja diperkirakan mencapai sekitar 55% dari kebutuhan nasional. Hal ini membuat utilisasi pabrik baja dalam negeri hanya bertahan di kisaran 50%.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa industri baja nasional masih menghadapi tantangan yang signifikan. Konsumsi domestik belum pulih sepenuhnya, sektor konstruksi masih lemah, dan dominasi produk impor, khususnya dari Tiongkok, terus menekan utilisasi pabrik dalam negeri,” ujarnya.

Menurut IISIA, tanpa intervensi kebijakan yang kuat dan konsisten, ruang pemulihan industri baja akan sangat terbatas. Risiko stagnasi atau bahkan penurunan utilisasi, margin, dan output produksi masih menjadi ancaman bagi pelaku industri.

Pada 2025, tekanan terhadap industri baja semakin berat dibandingkan tahun sebelumnya. Hingga triwulan III 2025, volume impor baja mencapai 4,83 juta ton, meningkat 15,6% dibandingkan periode yang sama pada 2024. Lonjakan impor ini terutama berasal dari Tiongkok, yang didorong oleh perbedaan harga yang sangat besar akibat kebijakan subsidi di negara tersebut.

Harry menjelaskan, dampak impor yang deras langsung memengaruhi kinerja industri dalam negeri. Utilisasi pabrik baja nasional saat ini hanya berada di kisaran 52%, jauh di bawah tingkat ideal industri sekitar 80%.

“Penurunan harga Hot Rolled Coil (HRC) asal Tiongkok menjadi indikator paling jelas. Dari US$ 858 per ton pada 2022, kini turun menjadi sekitar US$ 549 per ton hingga triwulan III 2025. Pangsa impor HRC Tiongkok pun melonjak dari 8% menjadi sekitar 32%,” katanya.

Tekanan berkepanjangan ini juga meningkatkan risiko terhadap keberlanjutan industri dan penyerapan tenaga kerja. IISIA mencatat penutupan pabrik PT Ispat Indo pada Agustus 2025 sebagai sinyal nyata melemahnya industri, di tengah utilisasi yang rendah dan tekanan biaya yang tinggi.

Meski prospek 2026 masih berat, IISIA melihat adanya potensi katalis pertumbuhan dari sektor-sektor tertentu. Industri otomotif, alat berat, dan perkapalan dinilai dapat menjadi sumber diversifikasi pasar bagi produsen baja nasional.

“Peluang dari sektor-sektor tersebut tetap ada, namun hanya bisa dimanfaatkan apabila produsen baja domestik mampu menyediakan produk dengan spesifikasi, kualitas, dan volume yang sesuai dengan kebutuhan industri hilir,” ujar Harry.

Ia menegaskan, prospek industri baja dalam 12–18 bulan ke depan akan sangat ditentukan oleh efektivitas kebijakan pemerintah, terutama dalam mengendalikan impor, memperkuat instrumen pengamanan perdagangan, serta mendorong sinergi hulu–hilir.

Langkah paling mendesak adalah pengendalian impor yang selaras dengan ketersediaan produksi dalam negeri. Impor perlu dibuka secara selektif dan terukur, hanya untuk produk yang belum dapat diproduksi di dalam negeri. Untuk produk yang sudah tersedia secara lokal, pemerintah didorong memperkuat hambatan masuk melalui trade remedies, penegakan SNI wajib, dan implementasi kebijakan P3DN secara konsisten.

Selain itu, penerapan Harga Gas Bumi Tertentu (HGBT) bagi industri besi dan baja dinilai krusial untuk menekan biaya energi dan meningkatkan daya saing. Dalam jangka menengah, IISIA juga mendorong penyusunan roadmap kebutuhan material nasional tiga hingga lima tahun ke depan guna mendukung substitusi impor yang terencana.

Di sisi lain, industri baja nasional juga dihadapkan pada tantangan baru berupa penerapan Carbon Border Adjustment Mechanism (CBAM) Uni Eropa yang akan berlaku penuh pada 2026. Meski porsi ekspor baja Indonesia ke Eropa masih relatif kecil, trennya meningkat signifikan dari 5,6% pada 2024 menjadi sekitar 13,1% hingga triwulan III 2025.

“CBAM bukan hanya isu ekspor ke Eropa, tetapi sinyal percepatan transformasi menuju industri baja rendah karbon. Ini akan memengaruhi daya saing kita dalam rantai pasok global,” kata Harry.

Untuk merespons hal tersebut, IISIA bersama pelaku industri mendorong peningkatan kapasitas pengukuran dan pelaporan emisi, penyusunan peta jalan dekarbonisasi yang realistis, serta advokasi kebijakan agar transisi menuju baja hijau didukung insentif fiskal, pembiayaan terjangkau, dan ketersediaan energi bersih yang kompetitif.

“Dengan kombinasi pengamanan pasar domestik, penguatan sinergi hulu–hilir, dan transformasi menuju industri baja hijau, kami berharap industri baja nasional dapat bertahan, meningkatkan utilisasi, dan memperkuat fondasi pertumbuhan jangka panjang,” tutupnya.

Exit mobile version