Kamboja Siap Berdialog, Thailand Menolak Negosiasi
Pemerintah Kamboja menyatakan kesiapan untuk kembali berdialog dengan Thailand di tengah meningkatnya ketegangan di perbatasan. Dalam pernyataan resmi yang disampaikan oleh Suos Yara, penasihat senior Perdana Menteri Kamboja Hun Manet, Phnom Penh menegaskan bahwa mereka siap duduk di meja perundingan “kapan saja”, bahkan dalam waktu satu jam ke depan jika Thailand menyetujui komunikasi langsung.
Kamboja menganggap dialog sebagai jalan terbaik untuk mencegah konflik meluas dan menjaga stabilitas kawasan. Pernyataan ini disampaikan setelah adanya baku tembak yang kembali pecah di sepanjang perbatasan darat yang mencapai 817 kilometer. Bentrokan tersebut menewaskan sedikitnya 13 orang dan memaksa ratusan ribu warga mengungsi untuk kedua kalinya dalam beberapa bulan terakhir.
Dalam keterangan resmi, pihak Kamboja juga menekankan pentingnya kerja sama internasional dalam menengahi konflik. Mereka ingin menunjukkan sikap kooperatif dan terbuka terhadap mediasi internasional demi melindungi warga sipil yang tinggal di area konflik.
Namun, situasi berbeda di sisi Thailand. Pemerintah negara itu menolak negosiasi dengan Kamboja karena menilai pihak Kamboja belum menunjukkan langkah deeskalasi yang nyata. Bangkok menuduh Kamboja melakukan pelanggaran wilayah dan memperburuk ketegangan di kawasan.
Perwakilan diplomatik Thailand menyatakan bahwa tidak akan ada kemajuan selama Kamboja dianggap belum menunjukkan itikad baik untuk menurunkan ketegangan militer. Hingga kini, Bangkok belum memberikan kepastian kapan akan membuka perundingan dengan Kamboja.
Perdana Menteri Thailand Anutin Charnvirakul menegaskan dukungan penuh kepada militer untuk melanjutkan operasi pertahanan di perbatasan. Langkah ini membuat peluang diplomasi semakin kecil, sementara risiko eskalasi yang lebih luas semakin besar.
Risiko Konflik yang Meluas
Pasca kedua negara saling melancarkan tuduhan pelanggaran dan kembali terlibat baku tembak di sejumlah titik sensitif sepanjang perbatasan, situasi kembali memanas. Para pengamat menilai, tanpa komitmen kuat dari kedua pihak untuk kembali ke meja perundingan, situasi dapat memburuk dalam waktu singkat.
Eskalasi lebih jauh dapat mengganggu stabilitas kawasan secara luas, mengancam kesejahteraan jutaan penduduk, dan menempatkan Asia Tenggara dalam fase ketidakpastian yang belum pernah terjadi dalam beberapa tahun terakhir. Selain itu, perang yang berkepanjangan dikhawatirkan menurunkan minat investor global untuk menanamkan modal di Asia Tenggara.
Penundaan investasi, relokasi pabrik, dan berkurangnya lapangan kerja dapat memicu pelemahan ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat. Tekanan juga muncul di ranah diplomatik karena konflik ini berpotensi memecah sikap negara-negara ASEAN yang memiliki kepentingan berbeda dalam merespons krisis.
Kondisi di Lapangan
Bentrokan di sepanjang perbatasan kembali terjadi dengan adu tembakan artileri, senjata berat, dan operasi balasan menjadi pemandangan pada hari kedua pertempuran terbaru. Situasi ini memicu kekhawatiran bahwa bentrokan kecil dapat berkembang menjadi konflik lebih besar, mengingat kedua negara telah mengerahkan pasukan tambahan dan menggunakan senjata berat dalam beberapa insiden terbaru.
Selain itu, kekhawatiran akan ancaman terhadap stabilitas kawasan dan kepercayaan investor juga semakin meningkat. Pasca konflik, banyak warga yang terpaksa meninggalkan rumah mereka dan mencari perlindungan di tempat yang lebih aman.
Reaksi Internasional
Terdapat tekanan dari pihak internasional terhadap kedua negara untuk segera menyelesaikan konflik melalui dialog. Namun, hingga saat ini, tidak ada tanda-tanda signifikan dari Thailand untuk memulai pembicaraan. Sementara itu, Kamboja tetap bersikeras bahwa mereka siap berdialog kapan saja, asalkan pihak Thailand menunjukkan kesediaan untuk berkomunikasi langsung.
Dengan situasi yang terus memburuk, dunia internasional mulai khawatir akan dampak jangka panjang dari konflik ini. Stabilitas regional dan kesejahteraan masyarakat menjadi prioritas utama, namun hingga kini, solusi masih sulit ditemukan.
