BencanaBerita

Curah Hujan Meningkat, Majalengka Siaga Banjir dan Longsor Akhir Januari

Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Majalengka mengajak masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman bencana hidrometeorologi. Hal ini dilakukan karena curah hujan yang mulai meningkat menjelang akhir Januari 2026.

Peringatan ini dikeluarkan setelah Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan informasi tentang potensi cuaca ekstrem di sejumlah wilayah Jawa Barat, termasuk Majalengka. Dalam pernyataannya, Agus Tamim, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Majalengka, menyebutkan bahwa peningkatan curah hujan berpotensi memicu banjir, tanah longsor, dan angin kencang.

“Kondisi ini diperkirakan akan berlangsung hingga penghujung Januari. Ini disebabkan oleh dinamika atmosfer yang masih aktif dan memperkuat pembentukan awan hujan,” ujarnya.

Agus menekankan bahwa kelembapan udara tinggi dan labilitas atmosfer yang kuat menjadi faktor utama dalam pembentukan awan hujan. Selain itu, pengaruh Monsun Asia dan aktivitas gelombang atmosfer juga turut berkontribusi pada potensi cuaca ekstrem.

Untuk mengantisipasi hal tersebut, BPBD Majalengka telah melakukan beberapa langkah antisipatif. Di antaranya adalah penyiagaan personel, koordinasi lintas sektor, serta penguatan kesiapsiagaan di tingkat kecamatan dan desa. Tujuannya adalah agar respons cepat dapat diberikan apabila terjadi bencana.

Wilayah dengan kerawanan tinggi seperti daerah bantaran sungai, dataran rendah, dan perbukitan menjadi fokus utama. Warga yang tinggal di sekitar area tersebut diminta lebih waspada, terutama saat hujan turun dalam intensitas tinggi selama waktu lama.

“Kami mengingatkan masyarakat agar tidak mengabaikan tanda-tanda alam. Jika curah hujan tinggi terus-menerus, risiko banjir dan longsor meningkat. Keselamatan warga menjadi prioritas utama,” katanya.

Selain itu, BPBD juga mengajak masyarakat untuk berpartisipasi dalam upaya mitigasi bencana. Beberapa langkah sederhana seperti membersihkan saluran drainase, memastikan aliran air tidak tersumbat, serta memangkas pohon yang berpotensi tumbang bisa membantu mengurangi dampak bencana.

Masyarakat juga diminta untuk menghindari berteduh di bawah pohon besar, baliho, atau bangunan tidak permanen saat hujan disertai angin kencang. Selain itu, warga diminta menjauhi tiang listrik dan peralatan elektronik ketika terjadi hujan petir guna menghindari risiko kecelakaan.

Agus menambahkan bahwa pemantauan informasi cuaca dari sumber resmi perlu dilakukan secara berkala. Dengan begitu, masyarakat dapat mengambil langkah antisipatif lebih awal.

“Kami berharap warga selalu mengikuti perkembangan informasi cuaca dari BMKG dan instansi terkait,” katanya.

Apabila terjadi kondisi darurat atau bencana, masyarakat diminta segera melapor ke BPBD Kabupaten Majalengka melalui call center 0823-4040-0300 atau layanan darurat nasional 112 yang dapat diakses secara gratis.

BPBD Kabupaten Majalengka berharap peningkatan kesiapsiagaan dan kesadaran bersama dapat meminimalkan risiko serta dampak bencana hidrometeorologi yang berpotensi terjadi hingga akhir Januari 2026. Dengan demikian, aktivitas masyarakat tetap dapat berjalan dengan aman.

Exit mobile version