Konsep Baru Olimpiade Musim Dingin 2026: Efisiensi dan Keberlanjutan
Olimpiade Musim Dingin 2026, yang akan diselenggarakan di Milan, Italia, menghadirkan konsep baru yang berbeda dari gelaran sebelumnya. Dengan tajuk Milano Cortina 2026, penyelenggara mencoba menawarkan pendekatan yang lebih efisien dan berkelanjutan. Tujuan utamanya adalah menjaga keberlanjutan Olimpiade sebagai ajang global tanpa harus mengorbankan ekonomi negara tuan rumah.
Perubahan Tradisional dalam Penyelenggaraan
Dalam sejarahnya, penyelenggaraan Olimpiade biasanya melibatkan pembangunan infrastruktur baru yang mahal. Negara-negara yang menjadi tuan rumah sering kali menghabiskan miliaran dolar hanya untuk membangun stadion, venue, dan fasilitas lainnya. Namun, hal ini sering kali berdampak pada utang dan penggunaan fasilitas yang tidak optimal setelah acara selesai. Contohnya adalah Olimpiade Sochi 2014 yang menelan biaya hingga $51 miliar (sekitar Rp800 triliun) dengan banyak fasilitas yang akhirnya terbengkalai.
Italia, sebagai tuan rumah Olimpiade Musim Dingin 2026, melakukan eksperimen besar dengan tidak lagi membangun gedung baru. Mereka memilih model Multi-Tuan Rumah yang berbeda dari tradisi sebelumnya. Model ini memecah tradisi dengan menyebarkan lokasi acara di wilayah seluas 22 ribu kilometer persegi di Italia Utara.
Lokasi yang Tersebar dan Manfaatnya
Model Multi-Tuan Rumah ini membuat Olimpiade Musim Dingin 2026 terbagi di beberapa kota. Misalnya, upacara pembukaan digelar di Stadion San Siro, Milan, sementara pertandingan ski dilaksanakan ratusan kilometer jauhnya di pegunungan Dolomites, Cortina d’Ampezzo. Jarak antara klaster ini bisa mencapai lima jam perjalanan darat. Meskipun terlihat merepotkan, alasan utamanya adalah untuk menjaga keberlanjutan setelah acara selesai.
Menurut International Olympic Committee (IOC), 92 persen venue di Milano Cortina 2026 menggunakan fasilitas lama. Contohnya adalah stadion hoki yang sudah ada di Milan dan lintasan ski legendaris di Cortina yang telah digunakan sejak 1956. Penggunaan fasilitas lama ini berhasil mengurangi estimasi biaya operasional menjadi sekitar $1,9 miliar (sekitar Rp30,4 triliun). Angka ini jauh lebih rendah dibandingkan Olimpiade Musim Panas Paris 2024 ($10 miliar) atau Beijing 2008 ($40 miliar).
Risiko dan Tantangan dalam Model Baru
Meski memiliki manfaat finansial dan lingkungan, model Multi-Tuan Rumah juga membawa risiko. Para atlet dan penonton harus menghadapi tantangan logistik yang nyata karena lokasi yang sangat tersebar. Selain itu, kehangatan “Olympic Village” yang biasanya menyatukan seluruh atlet dari berbagai cabang kini tersebar di berbagai klaster. Namun, bagi penyelenggara, ini dianggap sebagai pengorbanan kecil demi tujuan besar.
Model ini menunjukkan bahwa Olimpiade tidak lagi harus menjadi venue eksklusif bagi negara yang bersedia membuang uang. Sebaliknya, ia bisa diselenggarakan dengan cara yang lebih hemat dan berkelanjutan.
Pesan dari Milano Cortina 2026
Milano Cortina 2026 bukan hanya sekadar ajang olahraga, tetapi juga memberikan pesan penting bagi dunia. Menurut International Journal of Sport Policy and Politics, Olimpiade harus beradaptasi dengan kondisi kota, bukan sebaliknya. Jika eksperimen Italia ini sukses secara finansial maupun penyelenggaraan, maka akan menjadi contoh bagi negara lain.
Khususnya, negara-negara lain mungkin akan lebih terbuka untuk mengajukan diri menjadi tuan rumah bersama. Ini bukan sekadar tentang medali atau rekor baru, melainkan tentang bagaimana menjaga agar api Olimpiade tetap bisa menyala tanpa harus membakar ekonomi negara tuan rumahnya.
