JAKARTA – PT Maharaksa Biru Energi Tbk. (OASA) sedang memperluas cakupan proyek pengolahan sampah menjadi energi listrik (PSEL) dengan mengikuti tender di dua wilayah yang dilelang oleh Badan Pengelola Investasi Danantara. Proyek PSEL prioritas Danantara mencakup tujuh wilayah, yaitu Bogor Raya, Tangerang Raya, Semarang Raya, Medan Raya, Yogyakarta Raya, Denpasar Raya, dan Bekasi Raya.
Direktur Utama OASA, Bobby Gafur Umar, menjelaskan bahwa perusahaan saat ini tengah mengikuti tender di dua wilayah, yaitu Bogor Raya dan Denpasar Raya. Dari empat wilayah yang sudah masuk dalam tender, yakni Bogor Raya, Yogyakarta Raya, Denpasar Raya, dan Bekasi Raya, OASA hanya mengikuti dua di antaranya.
“Proses tender untuk proyek PSEL prioritas Danantara terbilang cepat dibandingkan dengan proses tender sebelumnya yang bisa memakan waktu 6 bulan hingga 1 tahun,” ujar Bobby dalam acara public expose daring, Rabu (17/12/2025).
Menurut Bobby, pemenang tender proyek PSEL Danantara yang diikuti oleh OASA akan ditetapkan pada akhir Januari 2026. Untuk menghadapi tender tersebut, OASA telah menandatangani head of agreement dengan BUMN asal China, Grandblue Environment Co., Ltd. Grandblue merupakan salah satu dari 24 perusahaan global yang masuk dalam daftar penyedia terseleksi (DPT) yang dapat mengikuti tender proyek PSEL atau waste to energy (WTE) Danantara batch pertama melalui kemitraan dengan perusahaan Indonesia melalui pembentukan konsorsium.
Bobby menjelaskan bahwa Grandblue adalah salah satu perusahaan pengolahan sampah terbesar di China dengan skala operasi waste to energy sebesar 99.590 ton per hari, atau sekitar 60% dari total produksi sampah kota-kota besar di Indonesia yang mencapai 175.000 ton per hari.
“Kami mencari partner yang kuat dan partner kami termasuk yang paling besar di China, berpengalaman, yaitu Grandblue Environment Co., Ltd. Kami sudah menandatangani perjanjian kerja sama dan berkoordinasi dengan Danantara. Kami sudah mempersiapkan semuanya untuk dua proyek tersebut,” kata Bobby.
Selain proyek PSEL Danantara, OASA juga tengah mempersiapkan pembangunan proyek PSEL yang telah dimenangkan sebelumnya. Untuk diketahui, OASA melalui anak usahanya PT Indoplas Energy Hijau (IEH) telah membentuk perusahaan patungan dengan perusahaan asal China Tianying Inc. (CNTY). Joint venture (JV) bernama PT Indoplas Tianying Energy telah memenangkan tender proyek PSEL di TPA Cipeucang Tangerang Selatan dengan investasi sebesar Rp2,6 triliun.
Perseroan juga memiliki portofolio PSEL di Jakarta. Proyek tersebut digarap OASA melalui IEH dengan konsorsium yang beranggotakan PT Jakarta Propertindo (Perseroda) atau Jakpro dengan PT Wijaya Karya (Persero) Tbk. (WIKA). Proyek ini membutuhkan capital expenditure (capex) senilai Rp6,56 triliun.
Adapun, dua proyek tersebut berbeda dengan proyek PSEL yang dimotori Danantara melalui regulasi Peraturan Presiden (Perpres) No. 109/2025. Dua proyek PSEL OASA di Tangerang Selatan dan di Jakarta ditargetkan akan mulai beroperasi pada 2028 dan beroperasi penuh di 2029.
Konstruksi proyek PSEL yang digarap bersama mitra asing tersebut harus memenuhi local content (TKDN) 25-30%, dan menurut Bobby hal ini bisa menjadi peluang pendapatan tambahan perseroan.
“Jadi bayangkan kalau konstruksi Jakarta sekitar Rp5 triliun, 30% itu local content. Itu direncanakan menjadi pengisi isi buka kita selama 2 tahun ke depan,” kata Bobby.
