BencanaBerita

Florencia Lolita dan Esther Aprilita, Pramugari Pesawat ATR 42-500, Ditemukan di Jurang 500 Meter

Profil Dua Pramugari yang Hilang dalam Kecelakaan Pesawat ATR 42-500

Dalam kecelakaan pesawat ATR 42-500 yang jatuh di Gunung Bulusaraung, Kecamatan Balocci, Kabupaten Pangkep, Sabtu (17/1/2026), dua pramugari menjadi korban. Mereka adalah Florencia Lolita Wibisono dan Esther Aprilita Sianipar. Keduanya memiliki latar belakang yang berbeda, tetapi sama-sama memiliki pengalaman dalam dunia penerbangan.

Florencia Lolita Wibisono

Florencia Lolita Wibisono berusia 32 tahun. Ia merupakan anak bungsu dari enam bersaudara dalam keluarganya. Selama 14 tahun, ia bekerja sebagai pramugari di Lion Air sebelum bergabung dengan Air Indonesia Transport, tempat ia bertugas di pesawat ATR 42-500 selama sekitar tiga bulan.

Menurut Ramos, anggota keluarga Florencia, Ollen—sapaan akrabnya—baru tiga bulan bekerja di pesawat tersebut. Sebelumnya, ia telah menghabiskan sebagian besar kariernya sebagai pramugari di Lion Air. Selain itu, ia juga dipercaya untuk menangani pelatihan awak kabin yang baru bergabung. Perannya sering dikaitkan dengan pembinaan dan pendampingan kru junior. “Dia juga jadi trainer untuk pramugari yang baru. Bisa dibilang seperti HRD,” tambah Ramos.

Pihak keluarga masih menantikan informasi resmi dari pihak berwenang terkait perkembangan pencarian dan penanganan insiden pesawat tersebut.

Esther Aprilita Sianipar

Esther Aprilita Sianipar adalah pramugari keturunan Batak. Ia lahir dari pasangan Adi Sianipar dan J Siburian. Meski keturunan Batak, keluarganya memilih tinggal di Bogor, Jawa Barat. Esther adalah anak sulung dari tiga bersaudara dan sering menjadi teladan bagi saudara-saudaranya.

Ia telah bekerja sebagai pramugari selama sekitar 6–7 tahun dan memiliki banyak pengalaman di sejumlah rute penerbangan. Ibunda Esther, J Siburian, mengaku masih berkirim pesan (chat) dengan sang putri pada Jumat (16/1/2026) sebelum kejadian. Esther mengabarkan sedang berada di Jogjakarta dalam rangka tugas. “Chat terakhir hari Jumat malam. Kami masih chatting. Dia bilang dia di Jogja. Biasanya kalau seperti itu komunikasinya aku sudah di sini mah, di sini mah,” ujar J Siburian.

Namun keesokan harinya, Esther tidak memberikan kabar apapun. Adi Sianipar, ayah Esther, mengatakan putrinya tidak membalas chat-nya satu hari kemudian. “Terakhir komunikasi kemarin saya jam 12 WA (WhatsApp) dia karena saya lagi ke Jakarta. Dia kan kos di Jakarta jadi saya mau jemput dia kalau dia mau pulang. Ternyata jam 12 itu enggak ada balasan dari dia, HP-nya udah enggak aktif,” kata Adi.

Proses Pencarian Korban

Saat konferensi pers di Bandara Internasional Sultan Hasanuddin Makassar, Sulsel, Senin (19/1/2026), Kepala Basarnas Marsekal Madya (Marsdya) TNI Mohammad Syafii menyampaikan bahwa salah satu korban telah ditemukan. Namun, identitasnya belum diketahui. Sang pramugari ditemukan di kedalaman 500 meter dari puncak Bulusaraung. Sehari sebelumnya, satu korban ditemukan berjenis kelamin laki-laki.

Proses pencarian dan evakuasi korban terus dilakukan oleh tim SAR. Keluarga para korban masih menantikan informasi lebih lanjut tentang kondisi dan lokasi penemuan anggota mereka.

Exit mobile version