BeritaKeuanganNasional

Ancaman Pemecatan Berbuah Manis, Purbaya Bangga Bea Cukai Mulai Berbenah: 2 Minggu Setelah Dipecat

Penilaian Menkeu terhadap Kinerja Bea Cukai yang Membaik

Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memberikan apresiasi terhadap perbaikan kinerja Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC). Ia menyebutkan bahwa Bea Cukai telah berhasil mengembangkan sistem pemindai peti kemas berbasis teknologi canggih serta aplikasi Trade AI untuk mendeteksi kecurangan dalam aktivitas impor seperti underinvoicing dan overinvoicing.

Perubahan Nada Menkeu terhadap DJBC

Sebelumnya, Menkeu Purbaya sempat melontarkan kritik tajam terhadap kinerja DJBC. Namun, dalam beberapa waktu terakhir, ia menyampaikan nada yang berbeda. Di hadapan publik, ia mengakui adanya perbaikan signifikan dalam pelayanan yang dilakukan oleh DJBC. Purbaya menilai bahwa para pegawai DJBC memiliki kapasitas dan kecerdasan yang mumpuni. Namun, menurutnya, potensi tersebut baru benar-benar keluar ketika dibarengi dengan tekanan, kritik, dan pengawasan ketat. Dalam istilah yang ia sampaikan secara lugas, Bea Cukai memang perlu “digebuk-gebuk” agar bergerak lebih cepat.

Pernyataan yang Kontras dengan Sikap Sebelumnya

Pernyataan ini terasa kontras dengan sikap Purbaya sebelumnya. Pasalnya, ia sempat melontarkan ancaman keras kepada pegawai Bea Cukai yang tidak melakukan pembenahan kinerja, mulai dari pembekuan jabatan hingga konsekuensi ekstrem berupa tidak menerima gaji sampai masa pensiun.

Kejutan atas Kecepatan Inovasi Teknologi

Lebih lanjut, Purbaya mengaku sempat tidak percaya ketika mengetahui Bea Cukai mampu menghadirkan sistem pemeriksaan berbasis teknologi canggih hanya dalam waktu dua pekan. Ia bahkan mengira sistem tersebut merupakan produk yang dibeli dari pihak luar. “Saya tadinya hampir enggak percaya, saya pikir dia beli. Enggak beli kan? Mereka bikin sendiri, jadi orang kita cukup pintar,” tegasnya.

Sistem Pemindai Peti Kemas dan Trade AI

Sistem yang dimaksud adalah teknologi pemindai peti kemas yang terintegrasi dengan aplikasi Trade AI, yang dirancang untuk menekan praktik underinvoicing serta berbagai bentuk kecurangan lainnya dalam aktivitas impor. Selain itu, Bea Cukai juga mulai memperkenalkan Trade AI, sebuah sistem berbasis kecerdasan buatan yang dirancang untuk menganalisis aktivitas impor secara lebih presisi.

Fungsi Pemindai Kontainer dan Deteksi Nuklir

Direktorat Jenderal Bea dan Cukai telah meresmikan penggunaan alat pemindai peti kemas (X-Ray) di Pelabuhan Tanjung Priok. Teknologi ini tidak hanya berfungsi untuk pemeriksaan visual, tetapi juga dilengkapi kemampuan mendeteksi bahan nuklir dan zat radioaktif di dalam kontainer. Langkah ini menjadi bagian dari transformasi pengawasan Bea Cukai yang semakin mengandalkan teknologi mutakhir.

Integrasi Trade AI dengan CEISA 4.0

Trade AI akan dilengkapi dengan berbagai kemampuan lanjutan, mulai dari klasifikasi barang, validasi dokumen, verifikasi asal barang, hingga rekomendasi profil risiko importir. Seluruh sistem tersebut akan terintegrasi dengan CEISA 4.0. Selain itu, Bea Cukai juga mengembangkan pelaporan mandiri berbasis aplikasi CEISA 4.0 Mobile melalui fitur Self Service Report Mobile (SSR-Mobile).

Pengembangan Fitur SSR-Mobile

Fitur ini sebelumnya telah diresmikan di PT Multistrada Arah Sarana, Cikarang, pada Selasa (09/12/2025). Pujian Purbaya kali ini menjadi sinyal bahwa tekanan keras yang sebelumnya dilontarkan berbuah hasil. Transformasi Bea Cukai, menurutnya, membuktikan bahwa dengan pengawasan dan dorongan yang tepat, kapasitas aparatur negara mampu bergerak cepat dan menghasilkan lompatan besar.

Exit mobile version