BeritaInvestasi

Singapura Pimpin Investasi ke Indonesia: 17,4 Miliar Dolar Masuk Tahun Ini

×

Singapura Pimpin Investasi ke Indonesia: 17,4 Miliar Dolar Masuk Tahun Ini

Sebarkan artikel ini


PMA ke Indonesia Tahun 2025: Singapura Masih Pemimpin, Tren Investasi Hilirisasi Meningkat

Pertumbuhan investasi asing di Indonesia pada tahun 2025 masih didominasi oleh lima negara utama. Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat bahwa Singapura tetap menjadi penyumbang terbesar dari total realisasi Penanaman Modal Asing (PMA) di Tanah Air. Hal ini memperkuat tren dominasi yang telah berlangsung selama lebih dari satu dekade.

Dari total realisasi PMA sepanjang 2025 yang mencapai Rp 900,9 triliun, kontribusi dari Singapura mencapai US$ 17,4 miliar atau sekitar Rp 293,72 triliun (dengan kurs Rp 16.891). Angka ini menyumbang sekitar 30,1% dari total investasi nasional yang mencapai Rp 1.931,2 triliun.

Menurut Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani, Singapura telah konsisten menjadi pemain utama dalam investasi asing ke Indonesia selama lebih dari sepuluh tahun terakhir. Ia mengatakan, “Secara konsisten, Singapura ini, lebih dari 10 tahun terakhir selalu di nomor satu dengan nilai US$ 17,4 miliar atau sekitar 30,1%.”

Di posisi kedua, Hong Kong mencatatkan nilai investasi sebesar US$ 10,6 miliar. Diikuti oleh Republik Rakyat Tiongkok (RRT) dengan investasi US$ 7,5 miliar, Malaysia dengan US$ 4,5 miliar, dan Jepang dengan US$ 3,1 miliar. Dengan capaian tersebut, Jepang berhasil masuk ke lima besar investor asing di Indonesia, menggantikan posisi Amerika Serikat.

Rosan menjelaskan bahwa pemerintah masih memisahkan pencatatan investasi Hong Kong dan RRT. Namun, jika digabungkan, total investasi dari kedua wilayah tersebut berpotensi melampaui Singapura. “Kalau Hong Kong dan RRT digabung, angkanya pasti melewati Singapura. Tapi saat ini kita masih pisahkan,” jelasnya.

Selain itu, komposisi negara-negara investor di lima besar cenderung bergantian, terutama antara Jepang, Amerika Serikat, dan Korea Selatan. Untuk itu, pemerintah terus berupaya mendorong agar arus investasi dari berbagai negara tersebut dapat tumbuh lebih merata.

Tren Investasi Hilirisasi Meningkat

Selain sumber negara, Rosan juga menyoroti peningkatan tren investasi asing di sektor hilirisasi. Sepanjang 2025, kontribusi investasi hilirisasi tercatat mencapai lebih dari 30% dari total realisasi investasi, meningkat dibandingkan beberapa tahun sebelumnya yang masih di kisaran 25%–28%.

“Trennya terus naik. Kalau dulu lebih banyak di sektor mineral, sekarang mulai meluas ke sektor perkebunan dan kelautan. Sudah mulai masuk investasi di tuna, cakalang, tongkol, dan komoditas perikanan lainnya,” kata Rosan.

Perluasan hilirisasi ke sektor non-mineral penting untuk menciptakan lapangan kerja yang lebih besar. Meskipun nilai investasi hilirisasi mineral relatif tinggi, dampak penciptaan tenaga kerja di sektor perkebunan dan kelautan dinilai lebih luas.

Dominasi PMA dalam Hilirisasi

Dari sisi sumber investasi, Rosan mengungkapkan bahwa hilirisasi masih didominasi oleh PMA, dengan porsi mencapai sekitar 80,5%. Hal ini disebabkan kebutuhan teknologi tinggi yang sebagian besar masih berasal dari luar negeri. Namun, pemerintah terus mendorong alih teknologi dan penguatan riset dan pengembangan (R&D) di dalam negeri.

“Sudah ada perusahaan dari China yang sepakat memindahkan R&D dan hak patennya ke Indonesia, khususnya di bidang mineral dan daur ulang. Ini bagian dari upaya menjaga keberlanjutan dan sustainability,” pungkas Rosan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *