BencanaBerita

Tragedi Petir di Haurgeulis: Dua Petani Indramayu Tewas Tersambar Saat Menanam Padi

Tragedi Petir di Indramayu: Dua Petani Tewas Saat Menanam Padi

Hujan deras yang melanda Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, pada Minggu siang, 21 Desember 2025, berujung duka mendalam. Dua petani tewas tersambar petir saat sedang menanam padi di areal persawahan, masing-masing di lokasi berbeda. Kejadian ini menjadi peringatan keras bagi para petani di tengah musim tanam yang sedang berlangsung.

Peristiwa nahas pertama menimpa Asih (35 tahun), warga Blok VIII Desa Karangtumaritis. Ia ditemukan tak bernyawa oleh warga sekitar pukul 14.00 WIB di Blok Kertanegara, Desa Karangtumaritis. Saat itu, hujan deras disertai angin kencang dan kilatan petir sedang mengguyur wilayah tersebut. Kejadian ini membuat warga terkejut dan langsung melaporkannya ke aparat desa.

Belum hilang rasa syok dari kejadian pertama, tragedi serupa kembali terjadi hanya berselang 15 menit. Muah (55 tahun), warga Blok VI Desa Wanakaya, ditemukan meninggal dunia di Blok Embung, Desa Wanakaya, sekitar pukul 14.15 WIB. Kedua korban sedang fokus menanam padi ketika petir menyambar secara tiba-tiba. Peristiwa ini memicu kekhawatiran besar di kalangan petani setempat.

Kapolsek Haurgeulis AKP Maman Kusmanto, mewakili Kapolres Indramayu AKBP Mohammad Fajar Gemilang, membenarkan kedua peristiwa tersebut. “Kedua korban sedang melaksanakan tanam padi di areal pesawahan. Saksi-saksi melihat langsung saat mereka tersambar petir,” ungkap Maman. Ia juga menjelaskan bahwa warga yang menyaksikan atau menemukan korban segera melaporkan ke aparat desa, yang kemudian meneruskannya ke Polsek Haurgeulis.

Petugas kepolisian bersama tim medis dari Puskesmas Wanakaya langsung bergerak ke lokasi untuk pengecekan dan evakuasi. Jenazah keduanya dibawa menggunakan ambulans ke rumah duka masing-masing untuk diserahkan kepada keluarga.

Musim tanam gadu (rendeng) 2025/2026 sedang berlangsung di Indramayu, salah satu lumbung padi nasional. Banyak petani memanfaatkan curah hujan untuk menanam, namun cuaca ekstrem seperti ini sering menjadi ancaman. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) kerap mengeluarkan peringatan dini tentang potensi hujan lebat disertai petir di Jawa Barat, termasuk Indramayu, akibat pengaruh bibit siklon tropis dan labilitas atmosfer.

Tragedi ini bukan yang pertama di Indonesia. Sepanjang 2025, beberapa kasus serupa tercatat, seperti di Banten dan daerah lain, di mana petani menjadi korban saat beraktivitas di lahan terbuka. Sambaran petir di sawah yang datar dan basah lebih berisiko tinggi karena petir cenderung mengenai titik tertinggi atau area konduktif.

Pihak kepolisian dan pemerintah desa mengimbau masyarakat, khususnya petani, untuk meningkatkan kewaspadaan. “Hindari beraktivitas di luar ruangan saat ada tanda-tanda petir, seperti awan mendung gelap, angin kencang, atau kilatan. Cari tempat aman seperti bangunan beratap atau kendaraan tertutup,” tambah Maman. BMKG juga menyarankan memantau aplikasi info cuaca atau situs resmi mereka untuk prakiraan harian. Di musim hujan seperti sekarang, petani disarankan menunda kegiatan jika cuaca memburuk, meski hal itu bisa memengaruhi jadwal tanam.

Duka menyelimuti keluarga korban dan warga Haurgeulis. Asih dan Muah dikenal sebagai pekerja keras yang menjadi tulang punggung keluarga melalui bertani. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa alam, meski memberi berkah hujan untuk pertanian, juga menyimpan risiko fatal jika tidak diwaspadai.

Pemkab Indramayu melalui Dinas Pertanian dan instansi terkait diharapkan dapat memperkuat sosialisasi keselamatan bagi petani, termasuk edukasi tentang bahaya petir dan penggunaan penangkal sederhana di area rawan. Semoga tragedi ini menjadi yang terakhir, dan para petani dapat terus berkarya dengan aman untuk mendukung ketahanan pangan nasional.

Exit mobile version