Peringatan BMKG tentang Potensi Bencana Hidrometeorologi pada Tahun Baru 2026
BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika) memberikan peringatan mengenai potensi bencana hidrometeorologi yang bisa terjadi di Indonesia pada periode Tahun Baru 2026. Dalam prospek cuaca mingguan hingga 1 Januari 2026, BMKG menyatakan bahwa sebanyak 14 wilayah berpotensi mengalami cuaca ekstrem, termasuk hujan sangat lebat dan angin kencang.
Bencana hidrometeorologi merujuk pada kejadian alam yang dipicu oleh fenomena atmosfer, hidrologi, dan oseanografi seperti curah hujan ekstrem, angin kencang, suhu ekstrem, atau kekeringan panjang. Dampak dari bencana ini bisa berupa banjir, tanah longsor, puting beliung, kekeringan, dan kebakaran hutan, yang sering diperparah oleh perubahan iklim dan aktivitas manusia.
Wilayah yang Berisiko Cuaca Ekstrem
Dari hasil analisis BMKG, terdapat 25 wilayah yang berpotensi mengalami peningkatan intensitas hujan. Daftar wilayah tersebut meliputi:
- Sumatra Barat
- Riau
- Kepulauan Riau
- Jambi
- Sumatra Selatan
- Kepulauan Bangka Belitung
- Bengkulu
- Lampung
- Banten
- DI Yogyakarta
- Jawa Timur
- Kalimantan Timur
- Kalimantan Utara
- Sulawesi Utara
- Sulawesi Tengah
- Sulawesi Selatan
- Sulawesi Tenggara
- Maluku Utara
- Maluku
- Papua Barat Daya
- Papua Barat
- Papua Tengah
- Papua Pegunungan
- Papua
- Papua Selatan
Selain itu, 14 wilayah lainnya berpotensi mengalami cuaca ekstrem, yaitu:
Status Siaga (Hujan Lebat-Sangat Lebat):
- Aceh
- Sumatra Utara
- Bengkulu
- Nusa Tenggara Barat
Angin Kencang:
- Riau
- Kepulauan Riau
- Bengkulu
- Jambi
- Jawa Timur
- Bali
- Nusa Tenggara Barat
- Nusa Tenggara Timur
- Maluku
- Papua Selatan
Dinamika Atmosfer Hingga Tahun Baru 2026
BMKG menjelaskan bahwa sedang terjadi perbedaan tekanan udara sebesar +13.9, yang menunjukkan adanya perambatan cold surge dari Asia menuju wilayah Indonesia. Selain itu, nilai Cross-Equatorial Northerly Surge (CENS) saat ini terpantau sebesar -5.3, yang juga berada pada kategori signifikan. Kombinasi dinamika tersebut diperkirakan memengaruhi kondisi cuaca di Indonesia hingga Tahun Baru 2026.
Monsun Asia sebagai Pemicu
Direktur Meteorologi Publik BMKG, Andri Ramdhani, menjelaskan bahwa aktifnya Monsun Asia menjadi pemicu utama meningkatnya suplai massa udara basah. Hal ini diprediksi akan berdampak pada mobilitas tinggi masyarakat di akhir tahun. Beberapa wilayah seperti Sumatra bagian selatan, Jawa, Bali, Nusa Tenggara, dan Papua Selatan berpotensi diguyur hujan lebat hingga sangat lebat sampai awal Januari 2026.
Meski secara klimatologis, wilayah-wilayah tersebut perlu diwaspadai, namun untuk wilayah yang baru saja terdampak bencana hidrometeorologi, seperti Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat, kondisi dalam sepekan ke depan diprediksi relatif kondusif. Berdasarkan hasil analisis BMKG, tiga wilayah tersebut didominasi warna hijau pada peta prediksi, artinya curah hujan masuk kategori ringan atau kurang dari 20 mm per hari.
Namun, Andri tetap mengingatkan warga Aceh untuk tetap waspada karena beberapa titik di Tanah Rencong masih masuk kategori kuning, yang berarti hujan sedang. Masyarakat diminta untuk tetap siaga dan memperhatikan informasi terbaru dari BMKG.
